Fajar Ciptandi: Batik Tuban Itu Unik, Ada Kapas Warna Coklat

0
70

JAKARTA, presidentpost.id – Museum Tekstil mengadakan “Pameran Dialog Kain” dengan agenda Bincang-Bincang Batik Tuban bertema “Sebuah Pengetahuan dan Kolaborasi Antara Gagasan Tradisional dan Konsep Design Pada Kain Tradisional Batik dan Tenun Gedog Khas Kerek, Tuban” di Museum Tekstil, Jakarta, Sabtu (10/2).

Dengan pembicara Fajar Ciptandi, S.Ds., M.Ds yang baru saja mendapat gelar doktornya menjelaskan alasannya mengapa memilih batik untuk penelitiannya. “Suka kain karena jurusan tekstil, awalnya tidak ada gairah sama sekali. Tapi akhirnya dari selembar kain terdapat satu hal yg menyenangkan. Namun tetap nilai dan makna lebih ke tekstil,” ujarnya.

Lulusan ITB ini menjelaskan mengapa ia melakukan penelitian batik gedog, khas Kerek. “Karena banyak baca buku, referensi tentang batik. Sering menemukan tentang batik tuban tetapi hanya satu paragraf. Minim sekali informasi tentang batik tersebut. Banyak disinggung tapi tidak diungkap dengan jelas. Ini objek tidak banyak orang tahu.”

“Karena penasaran, lalu cari buku-buku dulu tentang Kerek. Dapat satu buku tentang Kerek lebih dalam. Akhirnya penasaran saya tentang Tuban semakin dalam. Ingin membuktikan apakah benar sesuai dengan yang dibuku,” jelasnya.

Tidak sengaja 2011 bersama seorang dosen saat penelitian sisir pantai pantura, mampir lah ke Tuban. Pertama kali ke Tuban, semua diluar dari bayangan. Buyar. Semua berbeda dengan apa yang dibuku. Akhirnya tercetuslah niat untuk meneliti pergeseran dari buku dengan kondisi saat ini.

Fajar mempertanyakan apakah konsep tradisional masih melekat di masyarakat Kerek dan bertahan di lingkungan modern dan seperti apa produk yang dihasilkannya. Untuk mengetahuinya, Fajar bersama tim peneliti dari FSRD ITB mengkolaborasikan antara teknologi tekstil kontemporer (tekstur pada kain tenun, dan piranti lunak) dengan teknik tenun dan pola tradisional. Bahwa saat ini, selera desain tradisional begitu kuat di Kerek sehingga identitas lokal masih tetap aman, meskipun terjadinya moderanisasi dan hilangnya peran dan makna tradisional yang terdapat pada kain di masa lalu.

“Batik Tuban itu unik dari segi kapas yang ada dua, putih dan coklat. Yang coklat, ketika bunga kapas lepas atau pecah jadinya warna coklat bukan putih. Karena warna seratnya yang memang seperti itu, dan di tempat lain sulit tumbuh beda sama di Tuban, karena daerah Tuban banyak mineral,” kata Fajar.

Kain pada tataran sistem sosial masyarakat Kerek dahulu sempat dijadikan sebagai barang komoditi perniagaan yang biasanya mereka tukar dengan berbagai produk kebutuhan sehari-hari dengan sistem barter. Bagi masyarakat Kerek khususnya, kain batik tulis gedog memiliki nilai jual yang cukup tinggi.

Hasil dari penelitian ini ditampilkan dalam “Pameran Dialog Kain” Di Museum Tekstil, yang berlangsung dari tanggal 7 Februari sampai dengan 4 Maret 2018, mulai pukul 09.00-15.00 WIB, Senin tutup kecuali libur Nasional. (Risma/TPP)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here