Gubernur DIY Buka International Conference on Sustainable Tourism 2017

0
756
facebook.com/kemenpar

YOGYAKARTA, presidentpost.id – Gubernur DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) Sri Sultan Hamengkubuwono X membuka sekaligus menjadi keynote speech dalam Konferensi Internasional Pariwisata Berkelanjutan atau International Conference on Sustainable Tourism (ICST) 2017 yang berlangsung di Hotel Royal Ambarukmo, Yogyakarta, Selasa (31/10).

Penyelenggaraan konferensi ICST yang baru pertama kali ini sebagai media untuk mengakselerasikan dan memastikan kemajuan penerapan pembangunan Pariwisata Berkelanjutan dengan mengintegrasikan program destinasi pariwisata berkelanjutan (Sustainable Tourism Destination), Observatorium Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism Observatory), dan Sertifikasi Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism Certification).

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengharapkan percepatan penerapan Pariwisata Berkelanjutan dapat meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global terutama dalam mendorong peningkatan ekonomi masyarakat, pelestarian budaya, dan peningkatan kualitas lingkungan. Selain itu percepatan dalam pencapaian peningkatan kualitas destinasi dan target kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada 2019 serta peningkatan kontribusi pariwisata sebagai salah satu leading sector penghasil devisa utama dan sebagai penyumbang PDB nasional, hal ini selaras dengan prinsip pariwisata berkelanjutan yakni; ‘semakin dilestarikan semakin mensejahterahkan’.

Menpar Arief Yahya menjelaskan, untuk meningkatkan daya saing pariwisata tingkat global Indonesia berusaha memperbaiki kelemahan terutama pada health and hygiene; business environment; dan infrastructure . Perbaikan itu kini berhasil dalam meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia hingga naik 8 peringkat dari ranking 50 pada tahun 2015 kini menjadi ranking 42 dunia.

Secara umum Travel and Tourism Competitiveness Index ( TTCI) 2017 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF) melaporkan, pariwisata Indonesia naik di peringkat 42 dengan skor 4,16 dari posisi tahun 2015 berada di peringkat 50 dengan skor 4,04. Kenaikan skor tersebut karena ada 14 pilar penilaian beberapa di antaranya mengalami kenaikan antara lain; Business Environment naik 3 trap, dari 63 ke 60. Health and Hygiene naik 1 level, dari 109 ke 108. Tertinggi adalah International Openess naik drastis, dari 55 ke 17 karena faktor kebijakan Bebas Visa Kunjungan yang gencar disosialisasikan dalam dua tahun terakhir ini. Selain itu Prioritization Travel and Tourism juga naik dari 15 ke 12.

facebook.com/kemenpar

Launching WINSTO dan STD
Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata (Deputi BPDIP) Kemenpar Dadang Rizki Ratman, SH, MPA menjelaskan, penyelenggaraan konferensi ICST 2017 merupakan tindak lanjut dari kegiatan Indonesia Sustainable Tourism Award 2017, “ICST 2017 juga menjadi wadah bagi semua destinasi untuk berbagi pengalaman dalam penerapan pariwisata berkelanjutan,” kata Dadang Rizki Ratman.

Asdep Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata Dr. FransTeguh menambahkan, dalam konferensi juga merumuskan Deklarasi Yogyakarta untuk Pariwisata Berkelanjutan, strategi rencana agenda dan rencana aksi untuk percepatan penerapan Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia.

Dalam rangkaian konferensi dilakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama (MoU) antara Kemenpar dengan 11 Pemerintah Kabupaten/Kota dan Universitas yang akan menjadi dasar bagi pembentukan Pusat Monitoring Observatorium Pariwisata Berkelanjutan serta penandatanganan Komitmen Bersama dengan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) mengenai Pembangunan Industri Pariwisata Berkelanjutan agar mengacu pada prinsip – prinsip pariwisata berkelanjutan.

Selain itu juga diluncurkan (launching) Forum Wonderful Indonesia Sustainable Tourism Observatory (WINSTO), Forum Sustainable Tourism Destination (STD), dan Indonesia Sustainable Tourism Dashboard. Forum WINSTO ini ditujukan agar perguruan tinggi dapat berpartisipasi aktif dalam pengembangan pariwisata di wilayah observasi masing-masing dan pemangku kepentingan lokal dapat terlibat aktif di dalam pengukuran risiko, biaya, dampak, dan peluang pengembangan pariwisata melalui pendekatan inklusif dan partisipatif di destinasi pariwisata berkelanjutan

Sementara pembentukan forum STD dimaksudkan agar sinergi lintas destinasi dapat terbangun untuk mewujudkan destinasi pariwisata yang inklusif serta mendorong munculnya inisiatif dan inovasi model bisnis pariwisata berkelanjutan. Konferensi ICST 2017 merupakan hasil kolaborasi antara Kemenpar, UNWTO (United Nations World Tourism Organization), Global Sustainable Tourism Council, SECO (Pemerintah Swiss), UNSDSN, dan Universitas Gadjah Mada.

Konfensi yang berlangsung selama dua hari (31 Oktober-1 November 2017) dihadiri sekitar 300 peserta menghadirkan pembicara antara lain; Dirk Glaesser (Director for Sustainable Development of Tourism UNWTO), Prof. Chris Cooper (Department of Business and Management, Oxford Brookes University, UK), Randy Durband (GSTC Chief Executive Officer), Mari Elka Pangestu (President of United in Diversity), dan Hermawan Kertajaya (Founder and Chairman of MarkPlus Inc.) dan ditutup oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. (KEMENPAR/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here