Ini Triknya Berburu Milky Way di Tanjung Lesung

0
473
medium.com

JAKARTA, presidentpost.id – Pantai Tanjung Lesung tak hanya indah dengan kejernihan dan kebersihan pantainya yang alami. Saat malam, traveler dapat berburu Milky Way.

Perjalanan traveling menuju suatu tempat biasanya merupakan hal yang umum dilakukan oleh seorang fotografer lanskap. Menyaksikan keindahan alam pada waktu sebelum matahari terbit dan sepanjang hari serta menjelang matahari terbenam, biasanya sudah merupakan hal yang umum dicari fotografer landscape.

Lokasi atau tempat bagi fotografer lanskap biasanya berbeda dengan lokasi penggemar traveling, fotografer lanskap selalu ingin mencari dan mengeksplorasi tempat-tempat baru dan jarang dikunjungi wisatawan. Seorang fotografer lanskap mempunyai kepuasan tersendiri apabila dapat menghasilkan foto-foto yang eksotis dan belum banyak terekplorasi.

Kegiatan fotografer umumnya dilakukan pada waktu pagi, siang dan menjelang sore hari sampai matahari menghilang di batas horizon. Kemudian fotografer kembali ke penginapan untuk membersihkan diri, menyantap makan malam dan beristirahat dan kembali melanjutkan kegiatan pada subuh keesokan harinya.

Pada saat malam hari kebanyakan fotografer mengisi dengan kegiatan saling berbagi pendapat mengenai teknik, hasil dan juga pembahasan mengenai objek-objek foto yang diambil pada hari itu dan bagaimana rencana pesiapan besok yang harus dilakukan. Jadi secara umum pada malam hari jarang ada kegiatan fotografi dalam hal ini memotret yang dilakukan.

Milky Way atau Galaksi Bima Sakti merupakan salah satu objek foto astronomi pada rasi bintang Sagitarius yang dapat kita lihat dengan mata biasa tanpa harus menggunakan teleskop bintang khusus. Objek Milky Way dapat disaksikan dan juga diabadikan dengan menggunakan kamera foto biasa dengan catatan harus memenuhi beberapa kriteria tertentu. Mengabadikan Milky Way pada waktu malam hari dapat dilakukan apabila kondisi alam harus memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti mengetahui kapan waktu munculnya.

Lokasi Milky Way dapat dieksplorasi dengan menggunakan software Stellarium yang dapat di unduh secara gratis melalui internet. Posisi munculnya dapat dilihat secara simulasi dengan menggunakan software tersebut. Biasanya di daerah Indonesia dapat dilihat mulai dari bulan Juni sampai Agustus di posisi antara selatan dan barat.

Kondisi cuaca pada malam hari langit harus dalam kondisi cerah dan bersih dari awan, tidak bisa dilihat apabila kondisi langit mendung dan daerah sekitarnya berkabut atau turun embun. Situasi di sekitar lokasi harus gelap gulita atau penerangan harus seminim mungkin, sehingga langit terlihat gelap tanpa adanya pantulan cahaya lampu-lampu dari sekitarnya. Posisi bulan sebaiknya pada saat bulan mati atau gelap agar cahaya pantulan dari bulan tidak menyebabkan langit menjadi terang.

Sedangkan peralatan kamera yang dibutuhkan sebaiknya adalah sebagai berikut:

1. Kamera DSLR atau pun Mirrorless yang mempunyai fasilitas setelan Manual. Kondisi setelan manual artinya, ISO (kepekaan sensor) dapat diataur secara manual, minimum adalah antara 1600-3200. Shutter speed dapat diatur sampai 30 detik. Aperture lensa antara 1.4 sampai 5.6

2. Harus menggunakan tripod, sebaiknya menggunakan tripod yang kokoh, karena lamanya proses perekaman gambar bisa sampai 30 detik. Apabila menggunakan tripod yang tidak kokoh bisa saja terjadi goyangan kecil karena biasanya angin cukup kencang pada saat pengambilan gambar terutama di dareah pengunungan dan tepi pantai

3. Menggunakan timer untuk kamera yang tidak mempunyai fasilitas mirror lock up, menggunakan cable release atau wireless shutter release

4. Menggunakan lensa sudut lebar (wide angle lens), sebaiknya antara 10mm-24mm untuk ukuran sensor full frame dan 11mm-20 mm untuk yang mempunyai Crop Sensor (Faktor 1.5-1.6) Dan untuk menghasilkan efek khusus dapat juga menggunakan lensa fish eye

5. Menggunakan filter anti polusi (Night clear filter) kalau memang ada, kalaupun tidak ada juga tidak masalah

Beberapa setelan kamera untuk memotret untuk dapat menghasilkan foto Milky Way yang bagus adalah sebagai berikut:

1. Setelan Exposure pada kamera dapat diatur pada awalnya dengan setelan ISO 3200, Shutter Speed 30 detik dan Aperture 3.5. Kemudian hasil yang diperoleh di analisis untuk disesuaikan pada pemotretan berikutnya. Dengan kombinasi exposure dari ketiga komponen tersebut dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil foto yang baik

Dari pengalaman sebaiknya tidak menggunakan aperture melebih dari 5.6, ISO tidak melebih 3200 dan Shutter speed melebihi 30 detik. Hal ini dikarenakan semakin kecil bukaan aperture maka kepekaan sensor harus dinaikan atau shutter speed dibuat lebih lama lagi. Menaikan ISO semakin tinggi akan menambah noise pada hasil foto, sedangkan memperlambat shutter speed dapat menyebabkan sensor menjadi panas yang membuat efek timbulnya hot pixel

2. Pengaturan White Balance pada kamera dapat dilakukan dengan menggunakan Auto White Balance (AWB)

3. Penyimpanan format file foto sebaiknya disimpan dalam format RAW dan JPEG secara bersamaan untuk setiap pemotretan. Hal ini agar pengolahan foto setelah pemotretan (post processing) dapat dengan mudah dilakukan. Karena hasil foto secara umum biasanya harus dilakukan penyesuaian atau koreksi

4. Untuk kamera yang mempunyai sensor ukuran besar melebih 24 mega pixel full frame sebaiknya tidak menggunakan shutter speed melebihi 20 detik, karena dapat menimbulkan efek star trail atau sifted pada objek bintangnya. Hal ini disebabkan karena sensor mempunyai pixel yang lebih rapat untuk ukuran dimensi sensor yang sama

(DTK/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here