Peluang Adhi Karya di Jalur Kereta

0
838
Foto: Tirto.id

JAKARTA, presidentpost.id – Proyek pembangunan light rail transit (LRT) di kawasan Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodebek) bakal menggenjot kinerja PT Adhi Karya Tbk. Sebagian besar pendapatan emiten berkode ADHI ini berasal dari proyek yang dimulai September 2015.

Kepala Riset Ciptadana Sekuritas Arief Budiman mengatakan, “pendapatan ADHI dari sektor konstruksi mencapai Rp 7,79 triliun hingga September 2017. Jumlah ini berkontribusi 89% dari seluruh pendapatan ADHI,” kata Arief Dalam riset tanggal 31 Oktober

Per kuartal III-2017, total pendapatan ADHI mencapai Rp 8,71 triliun atau naik 53% secara year on year (yoy). Arief memberikan konfirmasi pada rabu 22 November, “sektor konstruksi ini mayoritas ditopang oleh proyek LRT Jabodebek, yang mana ADHI menjadi salah satu kontraktornya,” sebut Arief.

Meski sempat mengalami penurunan laba bersih, analis Samuel Sekuritas Akhmad Nurcahyadi berpendapat, peluang ADHI mencatat kinerja lebih baik di sisa kuartal IV terbuka lebar. Hal ini diperlihatkan oleh penambahan kontrak baru. Dalam risetnya tanggal 22 November, Akhmad mengatakan, nilai kontrak baru ADHI telah mencapai Rp 31,6 triliun hingga bulan Oktober 2017.

Terkait proyek pembangunan LRT Jabodebek, ADHI menargetkan proses keberlangsungan proyek tersebut bisa mencapai 35% di akhir tahun ini. Akhmad memperkirakan ADHI masih akan membiayai proyek LRT Jabodebek hingga Rp 2 triliun, dengan mengandalkan kas perusahaan atau pinjaman dari bank.

“PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan melakukan pembayaran pertamanya untuk membantu pembangunan proyek LRT Jabodebek sebesar Rp 4,5 triliun pada bulan Desember nanti. Pembayaran berikutnya akan menggunakan skema setengah tahunan, yang kami perkirakan akan diterapkan hingga Juni 2019,” ucap Eveline Liauw Analis Indo Premier Sekuritas dalam riset 31 Oktober. Eveline berharap dana tersebut dapat meringankan beban ADHI, sehingga kinerja emiten tersebut tetap stabil.

Sementara itu, menyongsong tahun 2018, Eveline memandang proyek transit oriented development (TOD) akan berperan besar bagi kinerja ADHI dalam jangka panjang. Saat ini, ADHI memiliki landbank seluas 49 ha di sekitar lintasan LRT Jabodebek. Lahan tersebut diproyeksikan untuk pembangunan kawasan TOD.

Eveline memperkirakan proyek TOD bisa berkontribusi sebanyak 40% dari total pendapatan yang diperoleh ADHI hingga 2019.

Arief menambahkan, mubazir jika ADHI terlalu berfokus pada proyek pembangunan LRT Jabodebek semata. Padahal, ada banyak kawasan di sekitar lintasan LRT yang bisa dimanfaatkan oleh emiten tersebut.

Arief pun menyambut baik manakala ADHI akan melakukan pemisahan unit bisnis departemen TOD dan hotel menjadi satu anak perusahaan baru pada Januari 2018.

Bahkan unit ini direncanakan untuk dilepas ke publik lewat initial public offering. “Unit bisnis ini bisa fokus menggarap proyek TOD dan sarana penunjang lainnya,” kata dia.

Saat ini, departemen tersebut tengah melakukan pengembangan empat kawasan TOD, yakni LRT City Bekasi Timur-Eastern Green seluas 16,9 ha, Jaticempaka-Gateway Park 5,9 ha, Ciracas-Urban Signature 11,5 ha, dan LRT City Royal Sentul 14,8 ha. Ke depannya, ADHI menargetkan mampu membangun 19 TOD.

Arief menyarankan buy saham ADHI dengan target harga Rp 2.720 per saham. Eveline merekomendasikan buy dengan target harga Rp 2.550 per saham.

Sementara itu, Akhmad merekomendasikan buy dengan target harga Rp 2.550 per saham. Ia memperkirakan ADHI bisa meraih pendapatan hingga Rp 19 triliun di tahun depan, sementara laba bersihnya diprediksi mencapai Rp 462 miliar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here