3 Kriteria Suksesnya Pembangunan Properti Menurut Chairman Jababeka

0
404

JAKARTA, presidentpost.id – Indonesia Economic Forum mengadakan forum industri properti yang pertama kali di Indonesia, Indonesia Property Forum (IPF) 2017, yang diselenggarakan pada tanggal 30 November 2017 di Hotel Shangri-La, Jakarta. Event yang ditujukan bagi para pemimpin di sektor properti untuk dapat mengantisipasi tren dan peluang dalam industri properti Indonesia di tahun-tahun mendatang.

Dalam sambutannya saat membuka IPF 2017, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/ Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil mengatakan dirinya menyambut baik penyelenggaraan acara ini karena mampu mengumpulkan para penggiat properti tanah air dalam sebuah diskusi. Karena dengan forum seperti ini, dirinya akan menjadi lebih tahu apa yang menjadi keluhan dan masukan dari para pengembang selama ini.

“Dengan forum seperti ini, saya bisa enrich knowledge (memperkaya pengetahuan) saya untuk bikin policy (aturan). Karena membuat aturan harus smart,” jelasnya.

Salah satu pembicara dalam acara tersebut, Chairman Jababeka Group S.D. Darmono mengatakan bahwa ada tiga kriteria yang menentukan suksesnya pembangunan proyek properti yaitu waktu, lokasi, dan masyarakat.

“Apakah waktunya sudah tepat? Jika waktu sudah tepat dan pihak-pihak yang bersangkutan sudah melakukan persetujuan maka kita bisa memulai proyek. Yang kedua adalah lokasi. Banyak yang bilang bahwa yang terpenting dari proyek properti adalah lokasi, lokasi, dan lokasi,” jelasnya.

“Dan yang ketiga adalah masyarakatnya. Apakah masyarakat sudah siap dengan pengembangan properti? Atau apakah masyarakat sudah siap dengan kedatangan investor-investor?” tambahnya lagi.

Menurutnya, semua itu bisa dimulai dengan bersandar pada sektor pariwisata, mengingat pariwisata Indonesia yang sangat menarik untuk wisatawan domestik maupun luar negeri.

“Contohnya Bali. 50 tahun atau bahkan  100 tahun lalu, orang datang ke Bali untuk membeli hasil kerajinan tangan masyarakat di sana. Lalu kejadian terus berulang dan berulang, orang dari luar dan dalam negeri datang dan pergi ke Bali. Hal ini membuat Bali menjadi terbiasa menerima kehadiran orang luar dan berlanjut dengan datangnya investor,” ungkapnya.

Menanggapi isu mengenai generasi milenial yang terancam tidak akan memiliki hunian di masa yang akan datang, Darmono mengatakan, “Pemerintah fokus pada pembangunan rumah tinggal, padahal yang dibutuhkan oleh genereasi milenial yang baru lulus kuliah dan mencari pekerjaan adalah sebuah tempat tinggal dengan sistim sewa. Mana mungkin orang yang baru masuk kerja dapat membeli sebuah rumah tinggal?”

“Investor hanya ingin memiliki hak milik bangunan sedangkan anak muda hanya ingin hak tinggal. Jadi bagi anak muda ini hak pakai lebih penting dari hak milik. Investor atau orang-orang yang memiliki banyak uang ini hanya ingin memiliki sertifikat untuk dapat dijadikan jaminan pinjaman, semakin banyak dan tinggi nilai jaminannya semakin tinggi juga pinjaman,” tuturnya.

Menurutnya, “ Saya berharap forum ini mampu mendorong pemerintah untuk membangun rumah murah yang sebanyak-banyak sehingga harganya turun dan masyarakat dapat menyewanya. Dan agar pemerintah tetap memberikan insentif kepada orang yang ingin berinvestasi serta membolehkan warga asing membeli properti di Indonesia.”

Dengan semakin banyaknya rumah, menurutnya, generasi milenial dapat menikmati rumah yang terjangkau bukan untuk dimiliki tapi untuk ditinggali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here