Bank Dunia: Perekonomian Indonesia Membaik Karena Situasi Negara Yang Positif

0
508

Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menguat pada kuartal ke-3 tahun 2017 dan tahun depan, menyusul perkiraan tumbuhnya investasi, pemulihan konsumsi, dan meningkatnya belanja pemerintah. Hal ini dipaparkan pada acara peluncuran laporan Indonesia Economic Quarterly (IEQ) edisi Desember 2017 oleh  Bank Dunia di Energy Building, Jakarta, Kamis (14/12).

“Pertumbuhan PDB rill diperkirakan sedikit meningkat menjadi 5,1% di 2017 dan terus menguat menjadi 5,3% pada 2018,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves.

“Selain faktor eksternal seperti harga komoditas yang lebih tinggi dan pertumbuhan global yang lebih kuat, ekonomi Indonesia yang kokoh didukung dengan membaiknya lingkungan usaha yang telah menarik lebih banyak investasi asing langsung serta investasi modal publik yang lebih banyak. Hal ini merupakan dampak positif langsung dari pengurangan subsidi bahan bakar dua tahun lalu,” ujarnya.

Pergerakan inflasi di tahun depan, Bank Dunia meramal akan berada pada kisaran angka 3,5 persen atau lebih rendah dibanding tahun ini yang diperkirakan 3,8 persen. Neraca transaksi berjalan diproyeksikan mengalami defisit 1,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Rodrigo menjelaskan, pihaknya juga melihat Indonesia kembali menegaskan komitmen terhadap anggung jawab fiskal di 2018. Hal ini terlihat dari penetapan target penerimaan pajak yang lebih tinggi dan lebih menantang di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018.

Sedangkan, Lead Economist Bank Dunia Frederico Gil Sander mengatakan, “Ekonomi akan terus membaik seiring kondisi lingkungan eksternal yang kondusif dan situasi dalam negeri yang positif.”

Awalnya pada semester 1 2017 konsumsi melemah yang dipacu oleh naiknya tarif listrik rumah tangga, meningkatnya pelaporan pajak karena adanya program tax amnesty, dan ketidakpastian politik yang timbul saat pilkada 2017, namun semua itu membaik di kuartal ke-3 2017, jelasnya.

Menurutnya, indikasi perbaikan itu sudah mulai tergambar dari data penjualan kendaraan bermotor yang melonjak pada kuartal ketiga setelah tiga tahun berturut-turut mengalami kontraksi.

“Pasar tenaga kerja menjadi lebih kuat dan konsumsi makin baik,” jelasnya.

Frederic juga menyebut bahwa turunnya tingkat inflasi serta stabilnya nilai rupiah ikut mendorong perbaikan konsumsi masyarakat.

Namun ia mengkhawatirkan beberapa resiko yang akan muncul yang bisa mengganggu proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018, salah satunya konsumsi yang lambat.

“Konsumsi rumah tangga yang lebih lambat dari perkiraan dan harga komoditas yang belum pulih sepenuhnya sehingga mengganggu kinerja ekspor,” ungkapnya.

Dan, tambahnya, dari luar juga dapat terpengaruh normalisasi kebijakan moneter, situasi geopolitik yang memanas, melemahnya harga komoditas dan pertumbuhan ekonomi di China yang selama ini menjadi mitra perdagangan Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here