Kontrak Baru PT PP Selama 11 Bulan Mencapai Rp 37,4 Triliun

0
439
Foto: cdcindonesia.com

JAKARTA,presidentpost.id –PT PP (Persero) Tbk (PTPP) mencatatkan total perolehan kontrak baru selama November 2017 sebesar Rp3,9 triliun yang terdiri dari PTPP induk sebesar Rp2,1 Triliun dan entitas-entitas anak Rp1,8 Triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta.

Dengan perolehan tersebut, perseroan berhasil membukukan total kontrak baru selama 11 Bulan 2017 sebesar Rp37,4 triliun. Untuk tahun 2017, PTPP memiliki target kontrak baru sebesar Rp40,6 triliun atau naik sebesar 25% dibandingkan realisasi kontrak baru tahun 2016 sebesar Rp32,6 triliun.

Berbagai kontrak baru yang berhasil diperoleh PTPP induk selama November 2017 di antaranya meliputi jalan tol Serang-Panimbang (Paket 2 Simpang Susun) sebesar Rp546 miliar, Bendungan Lausimeme sebesar Rp422 miliar, gedung ASEAN sebesar Rp407 miliar, apartemen Sky High Koapgi sebesar Rp350 miliar dan PLTD Senayan 100MW sebesar Rp199 miliar.

Sementara itu, entitas anak PT PP Presisi Tbk memberikan kontribusi kontrak baru sebesar Rp1,5 triliun (setelah eliminasi) disusul oleh PT PP Properti Tbk sebesar Rp235 miliar (setelah eliminasi) selama November 2017 saja. Kemudian berdasarkan tipe pekerjaan, PTPP memiliki portofolio kontrak baru yang beragam.

Kontribusi terbesar disumbangkan oleh segmen bangunan gedung sebesar Rp21,2 triliun atau 57% dari total kontrak baru selama 11 Bulan 2017.

Segmen jalan & jembatan dan segmen EPC merupakan kontributor kontrak baru terbesar ke-2 dan ke-3 bagi PTPP dengan masing-masing sebesar Rp6,8 triliun dan Rp5,8 triliun, yang setara dengan 18% dan 15% dari total kontrak baru.

Dengan demikian, tiga segmen ini memberikan kontribusi sebesar 33,8 triliun atau setara dengan 90% dari total kontrak baru yang dimenangkan oleh Perseroan selama Januari hingga November 2017.

Berdasarkan project owner, segmen BUMN mendominasi portofolio kontrak baru PTPP selama 11 Bulan 2017 dengan kontribusi sebesar 60,8% dari total kontrak baru, disusul oleh segmen Swasta sebesar 27,6% dan segmen Pemerintah sebesar 11,6%.

Direktur Utama PTPP Tumiyana mengatakan, ”Karakteristik penyerapan anggaran pemerintah dan BUMN berbeda dengan Swasta, di mana penyerapan terbesar umumnya terjadi di semester dua, terutama di kuartal empat,”kata Tumiyana.

Menurutnya, dengan pola seperti ini, PTPP optimis target kontrak baru masih dalam jangkauan, bahkan tidak tertutup kemungkinan dapat sedikit lebih tinggi dari target yang telah ditetapkan.

Sementara PT PP Presisi Tbk (PPRE) anak usaha PTPP yang belum lama listing di pasar modal, mengakui bakal lebih agresif di tahun depan dengan menargetkan pendapatannya melesat dua kali lipat pada tahun 2018 mendatang.

Benny Pidakso, Direktur Keuangan PPRE mengatakan, perusahaan ini mengincar pendapatan Rp 4,9 triliun di 2018. Hingga akhir tahun ini, PPRE yakin bisa mengantongi pendapatan Rp 2,3 triliun. Artinya, akan ada pertumbuhan pendapatan sebesar 113,04%. “Kami juga menargetkan laba tahun 2018 sebesar Rp 434 miliar,”katanya.

Pendapatan utama PPRE berasal dari civil work. Lalu, sisanya berasal dari penyewaan alat berat. Demi meraih target itu, PPRE tengah mengejar beberapa kontrak baru. Targetnya, tahun depan PPRE bisa mendapatkan kontrak senilai Rp 16,5 triliun. Sekitar Rp 9 triliun merupakan kontrak carry over dari tahun ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here