Manajemen Astra Membuat Investor Setia di Saham ASII

0
1487

Presidentpost.id – PT Astra International Tbk (ASII) terus menjaga kepercayaan para pemegang saham agar bisa untuk menjadi investor setia. Terlepas dari status saham berkode ASII yang masuk daftar paling likuid dan berkapitalisasi besar (big caps) di Bursa Efek Indonesia, Astra secara konsisten setiap tahun membagikan dividen, termasuk dividen interim.

Dari sisi dividen, dalam lima tahun terakhir, Astra International cenderung membagikan dividen dengan rasio yang konsisten, sesuai ketentuan yang telah disepakati dalam rapat umum pemegang saham setiap tahunnya. Di samping peningkatan harga saham, dividen merupakan salah satu pemanis bagi pemegang saham yang memberikan keuntungan berupa uang tunai.

Pada tahun 2016, Astra membagikan dividen final sebanyak Rp6,8 triliun atau setara dengan Rp168 per saham. Memang angka ini sedikit turun dibandingkan jumlah sebelumnya Rp7,2 triliun setara Rp177 per saham pada tahun 2015. Meskipun demikian penurunan tersebut ada alasannya.

Grafik : Perbandingan Dividen per Saham dan Total Dividen (2011 – 2016)

Sumber : Laporan Keuangan, diolah Bareksa

Alasan penurunan nilai dividen tersebut adalah karena laba bersih Astra yang memang sedikit turun dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya. Pada 2016, laba bersih emiten yang masuk dalam sektor aneka industri ini senilai Rp11,2 triliun, merosot 22,22 persen dibandingkan Rp14,4 triliun pada tahun sebelumnya.

Memang secara nilai dividen terlihat ada penurunan. Namun, ada kabar baik, yakni dari sisi rasio total dividen yang dibagikan terhadap laba bersih entitas induk (dividend payout ratio) justru terus meningkat dalam dua tahun terakhir. Hal ini tentu menjadi bukti komitmen manajemen untuk terus menjaga investornya yang sudah setia dengan saham ASII.

Bila dihitung, pada tahun 2015 dan 2016 manajemen justru meningkatkan rasio pembagian dividen menjadi 50-60 persen. Padahal sebelumnya, rasio pembagian dividen dari laba bersih yang didapat setiap tahunnya cenderung stagnan di kisaran 45 persen.

Kepada Bareksa, Head of Investor Relation Astra Tira Ardianti menyampaikan, perseroan secara konsisten mendistribusikan kepada pemegang saham dividen tunai dari laba bersih setelah pajak. Menurut Tira, perhitungan dividen perseroan mempertimbangkan kondisi keuangan, profitabilitas dan kebutuhan kas di masa mendatang untuk menunjang kegiatan operasional dan investasi.

“Usulan jumlah dividen diajukan oleh manajemen untuk mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan,” ucap Tira, Rabu, 20 Desember 2017.

Kemudian, sesuai posisi keuangan, dan persetujuan dewan komisaris, maka manajemen perseroan memutuskan pembagian dividen interim sebagai bagian dari dividen tahunan yang akan ditetapkan pada RUPS tahun berikutnya.

Grafik : Pertumbuhan Dividen & Laba Bersih (Rp Triliun) serta Rasio Dividen/Laba Bersih (%)

Sumber : Laporan Keuangan, diolah Bareksa

Dividen memang bukan hanya kebijakan Astra sebagai holding saja. Bahkan, sebagian besar anak usahanya juga rajin membagikan sebagian labanya sebagai dividen. Meski begitu, Tira menyebut, tidak ada strict policy mengenai berapa presentase rasio dividen. “Semua melihat kondisi keuangan, profitabilitas dan kebutuhan kas di masa mendatang untuk menunjang kegiatan operasional dan investasi,” imbuh dia.

Grafik : Pertumbuhan Laba Ditahan ASII (Rp Triliun)

Sumber : Laporan Keuangan, diolah Bareksa

Selain sisi rasio dividen meningkat, yang membuat investor setia dan juga merasa aman meski laba bersih sedang menurun ialah dari sisi ekuitas atau lebih tepatnya dalam pos laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya (Unappropriated Retained Earnings). Menurut analisis Bareksa, akun tersebut sangat vital perannya dalam menjaga stabilitas permodalan atau ekuitas untuk dijadikan modal baik operasional maupun ekspansi di tahun depannya.

Laba ditahan adalah bagian dari laba bersih perusahaan yang ditahan oleh perusahaan dan tidak dibayarkan sebagai dividen kepada pemegang saham. Uang ini biasanya diinvestasikan kembali ke dalam perusahaan, agar menjadi bahan bakar utama untuk kelangsungan pertumbuhan perusahaan di tahun mendatang.

Sejak 2012, laba ASII yang berhasil ditahan untuk dijadikan modal di tahun mendatang hanya Rp65,8 triliun. Namun, per September 2017 laba ditahan yang masih belum ditentukan penggunaannya ini meroket 65 persen menjadi Rp108,6 triliun. Tak hanya itu, rata-rata pertumbuhan laba ditahan yang masih belum ditentukan penggunaannya ini bertumbuh 8,7 persen di setiap tahun dalam 6 tahun terakhir (CAGR).

Sehingga bisa disimpulkan bahwa manajemen ASII dalam dua tahun terakhir menurunkan pembayaran nilai dividen kepada para pemegang saham murni karena sedang mengalami penurunan laba bersih. Namun, perlu ditekankan juga bahwa persentase dividen justru meningkat hingga 60 persen terhadap laba bersih.

Kemudian, di tengah penurunan laba bersih, manajemen mampu terus untuk meningkatkan laba ditahannya sebagai strategi perusahaan guna menopang permodalan di tahun-tahun mendatang. Maka dari itu, wajar bila strategi ini menjadi salah satu daya tarik bagi para investor untuk tetap memegang saham ASII yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. (TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here