Penerapan karcis Elektronik Pas

0
512

NUNUKAN, presidentpost.id – Wacana penerapan karcis elektronik atau elektronik pas (e-Pas) masuk ke Pelabuhan Tunon Taka Nunukan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Cabang Nunukan mendapat tanggapan beragam dari masyarakat. Kebijakan yang rencananya mulai diterapkan Senin, (8/1) pekan depan ini tak lepas dari pro dan kontra masyarakat. Khususnya pemilik angkutan kota (angkot) yang lebih banyak merasakannya.

“Makin banyak yang harus dibayar. Tidak hanya karcis masuk, lama parkir pun dihitung. Satu jam itu dibayar Rp 3 ribu per mobil. Kalau ada penumpang, masih bisa ditutupi. Kalau tidak ada terpaksa pusing kepala lagi,” ungkap Basri, sopir angkot yang selama ini mangkal di area Jalan Pelabuhan Baru kepada media ini.

Menurutnya, sebelum penerapan e-pas ini, PT Pelindo IV Cabang Nunukan ini melihat kondisi penumpang dan ekonomi masyarakat. Demikian pula dengan sarana dan prasarana yang dimiliki. Harusnya seimbang dengan fasilitas yang diberikan kepada setiap pengunjung. Khususnya tempat parkir dan yang berkaitan dengan kendaraan. Misalnya, tempat parkir yang layak dan aman. Jika fasilitas yang diberikan tetap sama, maka belum layak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di jasa kepelabuhanan ini memberlakukan karcis elektronik tersebut. “Jika tetap diberlakukan, maka bisa jadi tambang (tarif) angkot bisa naik juga. Karena kami harus menanggung biaya karcis yang dihitung perjam itu,” bebernya.

Dikatakannya, masalah ini terus menjadi perbincangan bagi sopir-sopir angkot. Sebab, masuk ke area Pelabuhan Tunon Taka Nunukan kini harus menghitung lama parkirnya. Bahkan tidak sampai satu jam sudah harus dibayar. Karena tetap dihitung satu kali masuk. “Sudahlah penumpang susah, kini harus bayar karcis mahal lagi. Nunukan ini semakin susah cari penghidupan,” kesalnya.

Menyikapi hal itu, General Manejer (GM) PT Pelindo (persero) IV Cabang Nunukan Muhammad Ilyas mengatakan, penerapan e-pas tersebut merupakan salah satu bentuk kemajuan dan perkembangan teknologi yang dilakukan pihaknya. Menurutnya semuanya harus berubah dan mengikuti perkembangan zaman. “Selain itu, kalau masih manual seperti saat ini masih meragukan juga. Saya tidak bisa menjamin anggota saya di lapangan yang memungut karcis itu betul-betul menyetor uang yang masuk ke kas Pelindo,” kata Muhammad Ilyas kepada Radar Tarakan, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (4/1).

Disebutkan, penerapan e-pas yang menjadi instruksi dari PT Pelindo IV ini hanya diberikan kepada enam kantor cabang saja. Yakni, Pelabuhan Nusantara Parepare, Tunon Taka Nunukan, Bitung, Ambon, Balikpapan, dan Ternate. Karena, keenam pelabuhan ini merupakan backrgound pelabuhan yang paling banyak kegiatan penumpangnya. “Tentunya, sebelum penerapannya sejumlah fasilitas mendukung dibenahi dan dilengkapi. Untuk Tunon Taka ini, sudah bisa dinikmati pertengahan tahun 2018 ini. Tapi, untuk lahan parkir sudah disiapkan dan diatur demi kenyamanan semua pihak,” ujarnya.

Dijelaskan, setiap kendaraan yang masuk ke Pelabuhan Tunon Taka mengambil sendiri barcode tiket di pintu masuk. Setelah masuk, tergantung bagi yang bersangkutan apakah ingin parkir lama di dalam atau hanya sebentar. Tarifnya sudah ditentukan untuk kendaraan roda empat (R4) khusus angkot dan jenis kendaraan lain. Nanti ketika menuju pintu keluar, barcode tiket kembali diperlihatkan ke petugas dan siap untuk dibayar. “Ketika masuk, sudah ketahuan jamnya. Jadi, pas keluar akan dihitung semuanya. Jadi, masuk gratis, nanti keluar baru dibayar,” jelasnya.

Kendati demikian, penarikan pembayaran khusus untuk lama parkir kendaraan masih ada kebijakan diberikan. Tidak kaku dengan hitungan pasti yang menerapkan Rp 3 ribu per jam. Untuk hitungan sehari, selama 12 jam hanya dibebankan maksimal Rp 20 ribu. “Paling  maksimal pemilik kendaraan itu membayar Rp 20 ribu. Itu sudah hitungan 12 jam parkirnya di Tunon Taka,” ungkapnya. (TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here