Siap Menjadi Pusat Riset Budaya Visual Nusantara, President University Hadirkan Prodi Visual Communication Design

0
244
Foto: president.ac.id

CIKARANG, presidentpost.id – Indonesia sangat terkenal dengan kekayaan seni budayanya, namun hal ini belum sepenuhnya dikembangkan untuk memajukan industri kreatif dan pariwisata. President University sebagai institusi pendidikan yang memiliki karakter multikultural memiliki visi  menggali budaya visual nusantara, dengan menghadirkan Program Studi Visual Communication Design (VCD).

Fransiska Rachel, S.Sn., M.Ds. Kepala Program Studi (Kaprodi) VCD menyampaikan, program VCD ini sebelumnya merupakan konsentrasi dari Prodi Komunikasi, baru pada tahun 2016 menjadi program studi tersendiri dibawah Fakultas Komputer. “Sebagian besar mahasiswa VCD President University berasal dari daerah sehingga saya berharap setiap mahasiswa bisa membawa karakter daerahnya untuk dikembangkan. Dimana nantinya VCD President University bisa menggali budaya visual nusantara. Ini menjadi tantangan saya untuk membangun prodi baru ini menjadi besar,” ujar lulusan Master Design ITB ini.

Lebih lanjut Fransiska menyebutkan, sebagai universitas internasional, maka siapapun yang akan riset tentang budaya visual nusantara bisa datang ke VCD President University, karena kami akan menjadi pusat penelitian dan pengembangan budaya visual nusantara. Sehingga orang asing tidak harus datang ke semua provinsi di Indonesia, cukup ke President University.

Dengan visi  menggali budaya visual nusantara, tentunya VCD memiliki keunggulan mengikuti kemajuan era digital. “Kami tekankan kepada mahasiswa pada kemampuan secara manual dan digital, seperti penguasaan software muktahir. Juga bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan animasi dan game dalam memenuhi kebutuhan dunia kerja. Ditunjang lagi President University memiliki link di berbagai negara khususnya perusahaan-perusahaan IT ternama, sehingga bisa untuk tempat magang,” ungkap Fransiska yang belum lama ini bergabung di President University.

Foto: president.ac.id

Dalam kesempatan yang sama Zita Nadia, S.Dn., M.Ds. selaku dosen Jurusan VCD mengungkapkan,  dalam pembelajaran di kelas, pertama, selalu dijelaskan mengapa kita butuh mata kuliah ini dan apa relasinya ketika nanti bekerja. Kedua, mahasiswa tidak hanya diberikan teori tetapi akan mensimulasikan secara langsung agar proses belajar menjadi lebih menarik. Apalagi saat ini kita menghadapi generasi Z yang memiliki karakter tersendiri yang kebutuhannya berbeda dengan generasi sebelumnya. Bisa dibilang mereka native digital, sehingga kami harus bisa beradaptasi akan kebutuhan mereka agar proses belajarnya mudah diterima. Jadi komplit baik dalam sistem berfikir maupun aplikasinya.

Dalam proses pembelajaran VCD akan lebih banyak porsi praktik dibandingkan teori. Praktik VCD sendiri dimulai secara manual untuk melatih kepekaan mahasiswa, seperti kepekaan akan gambar, ruang bidang dan warna. Selanjutnya setelah siap mahasiswa bisa ke ranah digital, seperti digital painting, fotografi, motion graphic dan lain-lain. Di President University, VCD memiliki beberapa konsentrasi antara lain multimedia, sehingga lulusan VCD President University bisa bekerja di banyak bidang seperti animasi, game, advertising hingga menjadi UI dan UX designer.

Meski jurusan VCD usianya masih belia, namun sudah menghasilkan banyak karya seni dan disain. Hal ini tidak lepas dari tugas yang selalu diberikan dan program rutin melakukan pameran untuk melatih mahasiswa agar karyanya semakin representatif. Karya seni yang sudah dihasilkan secara manual antara lain ragam batik, gambar ilusi, gambar tekstur, serta berbagai bentuk olah digital, fotografi dan animasi. Ragam hias daerah adalah salah satu bagian dari menggali budaya visual nusantara, dimana mempelajari ciri khas daerah untuk dikombinasi menjadi ragam batik. Hasil karya mereka ini akan dipamerkan dalam event Indonesian Art Exhibition yang berlangsung pada tanggal 17 – 21 Januari 2017 di Jababeka Convention Hall, yang rencananya akan dihadiri Presiden Jokowi. Keikutsertaan mahasiswa VCD di event tersebut difasilitasi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan & Alumni yang dijabat Dr. Agus H. Canny, M.A., M.Sc.

Presiden Jokowi terus mendorong industri kreatif dan  pariwisata tumbuh di setiap daerah, karena itu adalah kekuatan Indonesia dalam berkompetisi dengan negara lain. Namun kendala dalam mendorong kemajuan industri kreatif dan  pariwisata adalah keterbatasan SDM. Untuk itulah President University mendatangkan calon mahasiswa dari berbagai daerah di nusantara. Sebut saja ada Alesandra Monica Fenina asal Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Rendy Surya Karlin asal Lombok NTB, Yessy Nasthasya Wenas asal Banjarmasin Kalimantan Selatan, Natasya asal Jambi dan Hubert Andrean Asal Cikarang Jawa Barat.

Alesandra Monica Fenina yang biasa disapa Monica lulusan SMA Negeri 2 Tanjung Pinang ini memilih President University karena memiliki link yang lebih banyak dibandingkan universitas yang lain. “Saya memilih Jurusan VCD karena beda sekali dengan fakultas yang lain,  dimana kita lebih banyak praktek daripada teori, sehingga kita lebih peka kepada makna yang kita gambar apalagi dikerjakannya dengan hati. Saya suka gambar dari kecil, maka saya pilih (kuliah di jurusan) desain meski orang tua ingin saya masuk akunting atau perbankan,” ujar Wakil Ketua PUMA VCD ini yang ingin mengembangkan ragam hias Batik Gonggong Tanjung Pinang ke dunia luar. Dalam waktu dekat PUMA VCD akan menggelar VCD Gathering dan Art Exhibition yang pertama di Indonesia dan pada bulan Maret ada SOPU (Sport Olympiad President University).

Hal senada disampaikan Rendy, lulusan SMA Katolik Kusuma Mataram yang memilih jurusan VCD karena passion dari kecil adalah menggambar. “Saya bercita-cita membuat komik sendiri seperti yang terkenal di luar negeri tetapi dengan karakter Indonesia. Setelah masuk VCD maka terpikir dengan kampung halaman Lombok yang punya keindahan alam yang tidak kalah dengan Bali, bahkan lebih cantik dan alami. Lombok hanya kalah di cara pengemasan dan SDMnya yang belum tersentuh kemajuan global. Maka mimpi saya adalah membawa Lombok bisa bersaing dengan Bali,” ujar Rendy yang saat ini sudah merintis membuka toko souvenir khas Lombok seperti kain tenun.

Sementara itu, Yessy lulusan SMA Negeri 7 Banjarmasin memilih VCD President Universty karena ingin ikut mengembangkan karya seni lokal Banjarmasin seperti Batik Sasirangan. Batik ini punya motif zig zag atau geometris dan warnanya cerah mencolok. Motif Zig-zag ini diambil dari Banjarmasin yang punya banyak sungai. Setelah lulus sarjana, Yessy ingin menjadi animator di industri perfilman.

Natasya lulusan SMA Kristen Bina Kasih Jambi meski ditawarin beasiswa sekolah lain, namun memilih beasiswa dari President University. Disamping President University sekolah internasional link-nya banyak sehingga bisa keluar negeri. Berbeda dari kawan-kawannya yang lain, Natasya masuk VCD didukung penuh oleh orang tua. “Setelah masuk di sini, saya merasakan perkembangan kemampuan dan kepekaan terhadap seni dan desain, dan dosennya pun menfasilitasi kebutuhan kami,” ungkap Natasya sambil menunjukkan hasil karyanya berupa gambar ilusi.

Hubert lulusan SMA Nasional Kristen Anglo Lippo Cikarang, masuk President University karena tertarik pada dual degree dan dekat dengan rumah. “Saya ambil Jurusan VCD karena suka sesuatu yang penuh imajinasi dan fantasi. Ayah saya sangat mendukung, karena menginginkan saya bekerja tidak ikut orang, tetapi punya usaha sendiri. Selama di VCD saya lebih bisa mengembangkan multi media seperti ilustrasi, graphic design dan photo editing manipulation. Apalagi anak jaman now lebih suka game, animasi yang serba digital, sehingga saya ingin membuat animasi dengan mengangkat ciri khas Indonesia, contohnya mobile legend yang ada karakter Gatotkaca,” ujar Hubert. (CKP/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here