Inilah Rahasia Kenapa Xiaomi Menjual Ponselnya Dengan Harga Yang Murah

0
389
foto : tirto.co.id

JAKARTA, presidentpost.id – Jelang akhir tahun lalu, Xiaomi meluncurkan smartphone terbaru Redmi 5A di pasar Indonesia. Smartphone tersebut dibekali dengan system-on-chip (SoC) Snapdragon 425 dan memori sebesar 2GB hingga 3GB.

Selain itu, ada kapasitas penyimpanan antara 16GB hingga 32GB yang bisa dipilih. Dengan spesifikasi demikian, konsumen bisa memboyong Redmi 5A dengan harga Rp999.000 oleh Xiaomi di Indonesia. Donovan Sung, Director of Product Management & Marketing Xiaomi, dalam presentasi peluncuran Redmi 5A menegaskan bahwa smartphone ini adalah “raja dari smartphone entry-level.” Julukan yang menegaskan bahwa ponsel ini punya spesifikasi yang baik dengan harga yang relatif murah.

“Untuk (uang) sejumlah Rp1 juta (kita akan mendapatkan) Samsung J1 Ace dengan harga Rp1,299 juta dan Lenovo Vibe C dengan harga Rp1,330 juta. Lihat spesifikasi (dua smartphone tersebut) tidak berada di level yang sama (dengan Redmi 5A). Kedua prosesor smartphone tersebut berada satu dan dua generasi di belakang prosesor yang digunakan Redmi 5A,” kata Sung, mengutip dari tirto.co.id

Xiaomi, startup teknologi yang didirikan Lei Jun pada 2010, dikenal sebagai produsen yang membanderol produk smartphone dengan harga miring bila dibandingkan dengan produk pesaing dengan spesifikasi yang mirip. The Verge, dalam salah satu artikelnya menyebut Xiaomi sebagai merek yang populer memberikan komitmen specs-to-price ratio. Sementara itu, PC World, dalam artikelnya berjudul “Why are Xiaomi phones so cheap?” seakan-akan mengamini bahwa Xiaomi benar-benar memberikan harga murah bagi produknya.

Benarkah Xiaomi membanderol smartphone buatannya lebih murah dibandingkan para kompetitor?

Sebagai produsen smartphone, Xiaomi memulai langkahnya dengan meluncurkan Mi 1 pada 2011 silam. Smartphone yang memperoleh 300 ribu pre-order hanya dalam 34 jam itu mengusung spesifikasi yang terbilang baik pada masanya. Spesifikasi Mi 1 antara lain prosesor Snapdragon S3, memori 1GB, baterai 1.930 mAh, dan 2 kamera (depan 2MP dan belakang 8 MP).

Mengkomparasikan Mi 1 secara presisi dengan smartphone lain memang sulit. Namun, jika hanya menilik spesifikasi prosesor atau SoC. Sebuah istilah untuk menunjukkan microchip yang mengusung banyak sirkuit elektronik seperti microporsesor, analog-to-digital converter, memori, logic control, dan lain sebagainya dalam satu integrated circuit tunggal. Artinya cukup banyak smartphone yang sama-sama mengusung Snapdragon S3.

HTC Sensation 4G adalah salah satunya. Smartphone besutan HTC yang dirilis pada tahun yang sama dengan Mi 1 itu dibanderol $649,99 alias setara dengan Rp8,6 juta. Mi 1 saat itu dijual seharga ¥1999 pada saat peluncuran. Harga itu jika dirupiahkan dengan nilai saat ini berada di angka Rp4,2 juta. Xiaomi memang bisa lebih murah dibandingkan produk pesaing.

Apakah harga smartphone Xiaomi yang terkenal berharga miring berlanjut sampai kini?

Pada 2017, Xiaomi merilis 14 varian smartphone baru. Beberapa dapat ditemui secara resmi di pasar Indonesia antara lain Redmi 4A, Mi A1, dan Redmi 5A.

Redmi 4A merupakan smartphone besutan Xiaomi yang diluncurkan pada 10 Februari tahun lalu di Indonesia. Ia merupakan smartphone yang mengusung Snapdragon 425 sebagai SoC di tubuhnya. Selain itu, ada pula memori 2GB yang tersemat. Kapasitas penyimpanan sebesar 16GB dan 32GB jadi pilihan pada ponsel ini.

Pada saat diluncurkan, Redmi 4A dibanderol dengan harga Rp1.499.000. Namun, mengutip situs layanan pembanding harga, Redmi 4A dipatok dengan harga terendah Rp1.210.000 di Priceprice.com dan Rp1.250.000 di Pricebook.

Membandingkan secara presisi spesifikasi smartphone Redmi 4A juga tak kalah sulit. Namun, dengan hanya melihat SoC yang dipakai, ada cukup banyak smartphone serupa yang menggunakan Snapdragon 425. Ia adalah Motorola Moto E4, Asus Zenfone 4 Max, dan Samsung Galaxy J3.

Motorola Moto E4, mencatut harga terendah yang dipaparkan Priceprice.com berada di angka Rp1.888.000. Pada Pricebook, harga Motorola Moto E4 berada di angka Rp1.889.000. Sementara itu, Samsung Galaxy J3, menengok Priceprice.com, memiliki harga terendah di angka Rp1.585.000. Sedangkan bila berpatokan pada Pricebook, smartphone itu dijual dengan harga terendah di angka Rp1.674.000.

Xiaomi Redmi 4A mampu dijual lebih miring bila dibandingkan smartphone dengan spesifikasi mirip-mirip, khususnya dilihat dari SoC yang digunakan.

Smartphone berikutnya adalah Mi A1, yang diluncurkan pada 5 September 2017 di Indonesia. Smartphone hasil kerja sama Google melalui Android One itu memiliki spesifikasi memori sebesar 4GB dan media penyimpanan seluas 64GB.

Pada bagian otak, Mi A1 disematkan Snapdragon 625. Membandingkan hanya dengan SoC yang tersemat, ada cukup banyak smartphone dari produsen lain. Snapdragon 625 digunakan pula pada Samsung Galaxy C7, Motorola Moto G5 Plus, dan BlackBerry Keyone.

Xiaomi Mi A1, saat peluncuran, dibanderol dengan harga Rp3.099.000. Saat ini, pada situs layanan pembanding harga Priceprice.com dan Pricebook, harga terendah smartphone ini berada di angka Rp2.800.000 dan Rp2.900.000.

Angka itu ternyata lebih murah dibandingkan smartphone dengan SoC yang sama seperti yang disebutkan sebelumnya. Mengutip Priceprice.com, Samsung Galaxy C7 dijual dengan harga mulai dari Rp3.277.500. Motorola Moto G5 Plus, pada layanan Pricebook, dijual dengan harga mulai dari Rp3.035.000. Namun, lagi-lagi Xiaomi bisa mematok harga smartphone lebih murah daripada kompetitor.

Terakhir, smartphone yang dirilis Xiaomi pada 2017 di Indonesia ialah Redmi 5A. Uniknya, smartphone ini menggunakan SoC yang sama dengan redmi 4A. Bila Redmi 4A memiliki harga saat kali pertama diluncurkan Rp1.499.000, Redmi 5A, dipatok dengan harga sekitar Rp999.000.

Tanpa perlu bersaing dengan produsen lain, Xiaomi, melalui Redmi 5A, mengalahkan Redmi 4A dari segi harga. Tentu, ini terjadi hanya dengan membandingkan SoC yang digunakan. Pertanyaan yang mendasar soal Xiaomi yang mampu menjual produk relatif murah daripada pesaing pastinya muncul dari masing-masing konsumen.

Mengapa Xiaomi Bisa Lebih Murah?

Xiaomi memiliki cukup banyak alasan menjual produknya bisa murah. Dalam laporan PC World, Xiaomi tak menghabiskan uang di jalur pemasaran tradisional. Mereka memiliki jalur pemasaran online untuk produknya. Di awal kehadirannya, Xiaomi bahkan tak punya toko fisik karena mengandalkan penjualan secara online. Namun, Xiaomi kemudian memutuskan untuk memiliki toko fisik. Kehadiran toko fisik dianggap penting sebagai upaya “brand awareness” untuk menggapai pangsa pasar yang lebih luas.

Seorang manajer Xiaomi untuk pasar Spanyol mengamini hal itu. Mereka sudah berada di pasar negara Eropa itu selama beberapa tahun, dan mengandalkan penjualan secara online untuk menggapai pangsa pasarnya.

“Dalam beberapa tahun terakhir, orang hanya bisa membeli produk secara online. Kami meyakini bahwa kita sampai pada satu momen bahwa kita membangun toko fisik di sini untuk memberikan beragam cara dalam membeli dan memberikan pengalaman produk kepada konsumen Spanyol,” jelas manajer tersebut, seperti dikutip dari China Daily.

Petinggi Xiaomi, Lei Jun, bahkan menargetkan perusahaan itu membuka 1.000 toko offline dalam 3 tahun ke depan. Keseluruhan toko fisik itu ditargetkan menyumbang pendapatan hingga 10 miliar Yuan.

“Saya percaya bahwa tiap toko online akan memperoleh penjualan hingga 10 juta yuan (per bulan),” ucap Lei sebagaimana diwartakan South China Morning Post, mengutip dari tirto.co.id

Di Indonesia, Xiaomi juga baru saja meresmikan sejumlah gerai fisiknya. Beberapa gerai Xiaomi di Jakarta antara lain ada di Pondok Indah Mall, Mal Summarecon Serpong, Bekasi, atau Mal Emporium Pluit.

Strategi lain yang dapat membuat smartphone Xiaomi murah adalah Flash Sale. Flash sale adalah metode penjualan dalam tempo terbatas dengan iming-iming harga lebih murah.

Rajendra Kumar Tolety, dalam “Hunger Marketing, Flash Sale and Cost Optimization Strategy of Xiaomi Inc.” (2017), mengungkapkan bahwa flash sale secara fundamental adalah upaya Xiaomi untuk menekan harga jual produk. Ini salah satu upaya menekan biaya dari level operasional hingga level strategi.

Melalui metode itu Xiaomi mempraktikkan langkah pemasaran yang cukup sukses. Cara ini demi menekan penawaran untuk tetap di bawah permintaan, sehingga menciptakan apa yang disebut kondisi “defisit semu.” Secara sederhana, produk yang memanfaatkan strategi ini seolah-olah sangat laku hingga terkesan kehabisan stok.

Strategi Xiaomi ini mampu menawar ulang para pemasoknya agar memberikan harga murah bagi bahan baku pembuatan smartphone. Dengan berbagai strategi itu, Xiaomi kemudian dapat menjual produknya lebih murah dibandingkan produk pesaing.

Selain itu, Hugo Barra, yang sempat menjabat Vice President of International Xiaomi, dalam wawancaranya dengan Techcruch mengungkapkan bahwa salah satu rahasia mengapa Xiaomi bisa menjual produknya berharga murah karena menerapkan strategi umur penjualan sebuah produk yang cukup lama dan berani dengan stok barang.

“Sebuah produk (yang kami luncurkan) tetap berada di rak dalam tempo 18-24 bulan, (dalam tempo itu) produk mengalami pemotongan harga antara tiga hingga 4 kali. Mi2 dan Mi2s contohnya. Mi2 Mi2s dijual dalam 26 bulan. Redmi 1, yang diluncurkan pada September 2013, dan kami baru meluncurkan Redmi 2 bulan ini, itu 16 bulan setelahnya,” ucap Barra menjelaskan strategi Xiaomi., mengutip dari tirto.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here