Desainer Lulu Lutfi Labibi: Batik Tuban Terkesan Klasik dan Tua

0
218

JAKARTA, presidentpost.id – Museum Tekstil Indonesia menghadirkan pameran Batik Gedog khas Kerek Tuban. Dr. Fajar Ciptandi, S.Ds., M.Ds bersama tim peneliti dari FSRD ITB menunjukan hasil penelitiannya dalam “Pameran Dialog Kain” di Museum Tekstil, Jakarta, mulai tanggal 7 Februari sampai dengan 4 Maret 2018.

Mengkolaborasikan antara terknologi tekstil kontemporer dengan teknik tenun dan pola tradisional, tim peneliti melakukan eksperimen fashion yang melibatkan desainer Lulu Lutfi Labibi.

“Tentunya mengembangkan produk tanpa mengubah DNAnya, tetapi bisa memodernasikan agar bisa bersaing, yaitu menggaet inovator tentang Kerek yang berpikiran terbuka,” Jelas Fajar.

Mengambil tema “Hulu Ke Hilir”, yang merupakan konsep perancangan busana dengan kain batik dan tenun gedog pengembangan oleh desainer Lulu Lutfi Labibi.

Di sini kita diingatkan untuk menghargai sebuah proses. Hulu menggambarkan sebuah proses yang dilakukan oleh masyarakat di desa Kerek yang terbiasa menanam kapasnya sendiri, kemudian dipintal dijadikan helaian-helaian benang. Hilir ditampilkan pada sebuah proses di mana benang-benang pintalan tangan tersebut ditenun untuk dijadikan lembaran-lembaran kain dan dibatik.

“Kesan pertama saya saat melihat kain tradisional Tuban adalah klasik dan tua. Menyentuh, melihat dan merasakan kain-kain ini membuat saya seperti terlempar ke masa lalu, bagaikan pertama kali mengenal batik dari koleksi milik eyang saya,” kata Lulu.

Dia juga menambahkan, “Saya melihat adanya kemiripan dengan sebuah teori estetika dari Jepang, yaitu Wabi-Sabi yang menjelaskan mengenai keindahan pada suatu hal yang tidak sempurna. Dalam perjalanan kehidupan kita sudah melampaui banyak hal, hingga pada akhirnya kita pun bisa mengartikan arti kemewahan pada sudut pandang yang lain.”

“Bahwa kemewahan sekarang justru lari pada suatu hal yang sederhana. Cara pandang inilah yang juga coba saya tampilkan untuk membangkitkan kerinduan akan hal yang sederhana menjadi kian membuncah,” ungkapnya.

Motif pertama kain tenun gedog “Ulu Gibas” atau “Bulu Domba”, terinspirasi dari domba-domba dengan bulunya yang lebat yang diternak oleh masyarakat Kerek dan biasanya dibuatkan kandang du sekitar pekarangan rumah.

Motif kedua “Upo Kecer” atau “Nasi yang tercecer”, terinspirasi dari bekal nasi yang biasa dibawa oleh para petani ke sawah atau ladang yang dibungkus dengan daun jati dan daun pisang, kemudian menyisakan nasi-nasi yang tercecer pada daun tersebut.

Motif ketiga “Tegel Cino” atau “Tegel Cina”, terinspirasi dari tegel-tegel yang banyak digunakan di rumah-rumah para juragan batik.

Motif keempat “Cacah Gori” atau “Cacahan Nangka Muda”, terinspirasi dari potongan-potongan nangka muda yang umumnya dijadikan oleh masyarakat Kerek sebagai sayuran yang biasa dimakan bersama-sama dengan nasi dan lauk.

Motif kelima “Sodo Sumelap” atau “Lidi yang Terselip”, terinspirasi dari batang lidi yang biasa digunakan oleh masyarakat Kerek sebagai sapu lidi yang berasal dari pohon ental atau kelapa yang banyak tumbuh di Kerek. (Risma/TPP)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here