Filosofi dan Makna Kain Tradisional di Kerek, Tuban

0
128

JAKARTA, presidentpost.id – Dalam penelitian yang dilakukan Doktor lulusan ITB Fajar Ciptandi, S.Ds., M.Ds bersama tim peneliti dari FSRD ITB yang membandingkan pergeseran dari Kerek yang dulu ke Kerek yang sekarang. Dijelaskan dalam “Bincang-Bincang Batik Tuban” di Museum Tekstil, Jakarta, Sabtu (10/2).

Kain batik dan tenun gedog tidak hanya memiliki berbagai nilai yang bersifat kebendaan saja, melainkan juga memiliki nilai-nilai yang bersifat nonbenda.Tekstil yang berkembang di Kerek memiliki konsep kosmologi yang oleh masyarakat lokal disebut sebagai “Siklus Kehidupan” atau filosofi Jawa yang biasa disebut mancapat, yaitu mata angin yang merepresentasikan nilai-nilai kehidupan.

Keempat penjuru mata angin (Timur, Selatan, Barat dan Utara) diyakini sebagai tempat bertahtanya para dewa. Dengan titik pusat yang dianggap sebagai kekuasaan yang memancarkan tenaga keluar menuju titik-titik yang berkekuatan lebih tipis, sehingga tempat yang berada di bagian pusat ini berstatus lebih tinggi dan lebih dekat dengan kekuasaan.

Timur yang memiliki makna kelahiran dan masa kanak-kanak, Selatan proses kematangan seksualitas dan kesuburan seorang perempuan, Barat masa ketidaksuburan wanita dan menjadi tua, Utara masa lanjut dan peristiwa berakhirnya kehidupan atau kematian.

“Apa memang pemaknaan nilai-nilai tidak terjadi lagi sekarang, apa ada yang berubah, tidak lagi meyakini apa yang harus dilakukan,” ujar Fajar.

Berhubungan dengan konsep kosmik mancapat, tampilan visual pada kain pun secara khusus memiliki makna yang erat kaitannya dengan konsep kosmik tersebut dan divisualisasikan ke dalam warna. Seperti Putihan, Bangrad, Pipitan, Biron, dan Irengan.

Batik putihan didominasi dengan warna putih, yang menurut pengetahuan masyarakat Kerek merupakan perlambangan sebuah awal kelahiran manusia dalam keadaan bersih dan suci. Begitu pun halnya dengan batik irengan yang didominasi warna hitam, hal ini dikaitkan dengan kematian dan akhir kehidupan dalam nuansa warna yang gelap dan pekeat.

Kemudian terdapat warna merah/bangrod dan biru/biran yang melambangkan tentang kesuburaan dan sebuah kehidupan.

“Tetapi di sana saya melihat hal yang ambigu, nenek-nenek memakai kain merah, yang menurut filosofi seharusnya itu untuk seorang gadis. Bingung kan, ternyata tidak se-kaku itu. Ada yang bilang juga kalau itu merepresentasikan dari makna dusunnya. Dari barat berarti boleh pakai merah, jadi tumpang tindih,” ujar Fajar

“Makna tidak lagi kuat,” tambahnya. (Risma/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here