Moreblessing Mapolisa: Pemikiran Seorang Mahasiswi asal Zimbabwe tentang Budaya Indonesia

0
81

CIKARANG, presidentpost.id – Indonesia merupakan negara multikultur dengan kebudayaan yang sangat beragam. Disamping keindahan alamnya, keberagaman ini menjadi salah satu daya tarik bagi warga negara lain untuk berkunjung ke Indonesia. Hal ini juga dirasakan oleh Moreblessings Mapolisa yang berasal dari Zimbabwe, Afrika bagian Selatan ketika pertama kali datang ke Indonesia.

Mobie, begitu sapaan akrabnya, merupakan salah satu peserta program beasiswa Darmasiswa yang kini tengah mempelajari bahasa Indonesia di President University selama satu tahun.

Mobie merupakan satu-satunya anak perempuan dan mempunyai dua orang saudara. Dia dan keluarganya tinggal di pinggir kota Gweru, kota terbesar ketiga di Zimbabwe. Dia mengagumi ibunya yang seorang pekerja keras serta selalu bisa menemukan jalan kesuksesan, dan ia juga mengagumi Bill Gates yang mana berangkat dari keluarga yang kurang beruntung dan dengan bekerja keras dia dapat menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

“Saya tidak terlalu sering bepergian dalam hidup saya dan saya hanya pernah pergi ke tempat domestik atau negara-negara tetangga seperti Afrika Selatan, Botswana, dan Zambia, tetapi negara-negara ini hampir sama dalam hal tradisi dan budaya. Namun Indonesia berbeda dalam banyak hal yang bahkan tidak pernah saya bayangkan,” ucap Mobie.

Indonesia mempunyai lebih 260 juta penduduk dari berbagai kebudayaan dan bahasa yang berbeda, tetapi mereka saling menghormati satu sama lain terlepas dari perbedaan etnik dan juga tradisi yang berbeda-beda.

“Kebanyakan negara pada saat ini tidak menghormati kebudayaannya dan lebih banyak mengadopsi kebudayaan barat atau budaya Amerika. Orang Indonesia mempunyai rasa hormat pada budayanya dan mengintegrasikan kebudayaan mereka dengan segala yang mereka lakukan di jaman modern ini,” ungkap Mobie.

Mobie mengagumi bagaimana orang Indonesia berhasil menjadikan bahasa mereka lebih unggul dibanding bahasa asing lainnya. Menurut beberapa studi, bahasa Inggris merupakan bahasa kedua terbanyak dipakai setelah Mandarin, dan ini menunjukan bagaimana kebanyakan populasi dunia telah memprioritaskan bahasa Inggris dibanding bahasa daerah mereka. Tetapi bagi Mobie, hal itu bukanlah sebuah perkara di Indonesia karena masyarakatnya memprioritaskan bahasa lokal lebih dari bahasa Inggris dan hal itu menjadi tanda ketidaktergantungan sebagaimana hal itu menunjukan kedaulatan yang penuh dan kemandirian sebagai sebuah bangsa.

“Sejujurnya saya iri dengan semua keindahan dan hal-hal menakjubkan yang saya lihat di Indonesia, dan saya berharap negara saya pun dapat mempunyai budaya dan tradisi yang terjaga. Saya sangat kagum akan masyarakat Indonesia yang menjunjung tradisi dan moral khususnya di zaman sekarang dimana orang tidak peduli terhadap moral,” pungkas Mobie.

Dia mengaku bahwa ia sama sekali tidak menyangka untuk melihat hal-hal yang menarik di Indonesia. Dia membayangkan Indonesia sebagai negara tidak berkembang dengan orang-orang yang membosankan karena ia tidak pernah mendengar apapun tentang negara ini sama sekali, tetapi ketika ia datang kemari, ia sangat terpukau dengan betapa bagus perkembangan Indonesia dan bagaimana menyenangkannya masyarakat Indonesia.

Ditanya mengenai perbedaan dalam pendidikan, ia melihat bahwa dosen disini dekat dengan para muridnya.

“Mahasiswa bebas untuk berbicara dengan dosennya, di negara saya kami tidak punya hal seperti itu. Tetapi berbagai hal berbeda disini, dan itu bagus karena mahasiswa seharusnya bebas untuk berbicara dengan dosen. Hal ini merupakan hal yang baik yang saya temukan di sistem pendidikan President University dan saya sangat menyukainya,”ungkap Mobie.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here