Entrepreneurial University dan Tiga Sudut Pandang

0
48

CIKARANG, presidentpost.id – Pada edisi lalu sudah dibahas soal banyaknya lulusan yang mendirikan bisnis startup, yang kerap dijadikan sebagai salah satu ukuran apakah suatu perguruan tinggi (PT) sudah layak menyebut dirinya Entrepreneurial University. Betulkah ini sudah menjadi ukuran bahwa suatu PT layak menyebut dirinya Entrepreneurial University?

Kata Adhi Setyo Santoso, Direktur SetSail BizAccel, sebuah inkubator bisnis di bawah President University (PresUniv), yang juga dosen di Program Studi Business Administration PresUniv, “Banyak PT yang memakai pendekatan Entrepreneurial University untuk menciptakan SDM yang adaptif terhadap perubahan. Namun, belum banyak PT yang mengukur seberapa entrepreneurship-kah mereka dalam aktivitas sehari-harinya.”

Untuk mengukur, dan mewujudkan PT sebagai Entrepreneurial University,itu bisa dilakukan dengan memakai pendekatan GITA.Apa itu GITA? GITA adalah singkatan Growing Indonesia: a Triangular Approach, suatu pendekatan yang didukung oleh Erasmus, sebuah komisi di Uni Eropa yang mendukung kegiatan dalam bidang pendidikan, pelatihan, pemuda dan olahraga di berbagai negara. Kata triangular di sini merujuk pada tiga sudut pandang, yakni adanya kerja sama yang erat antara universitas dengan korporasi, memiliki kurikulum tentang entrepreneurship atau kewirausahaan, dan employability of graduates atau kelayakan lulusannyauntuk dipekerjakan.

Jadi, sebuah PT belum layak menyebut dirinya jika tidak memiliki kerja sama yang erat dengan korporasi, serta tidak memiliki kurikulum entrepreneurship dalam kegiatan perkuliahannya. Tapi, mengapa layak dipekerjakan juga menjadi salah satu ukuran? Harap diingat definisi entrepreneurship di sini sangat luas. Definisi ini juga mencakup semangat kewirausahaan dari mereka yang bekerja sebagai karyawan. Ini biasa disebut dengan istilah intrapreneurship. Korporasi akan maju dan berkembang bila didukung oleh SDM yang berjiwa entrepreneur.

Tiga aspek tadi, menurut konsep GITA, harus disatukan dalam sebuah ruang fisik yang disebutGrowth Hub.Hub ini adalah sebuah tempat di mana para mahasiswa, dosen-dosen dan alumni dari berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam program GITA, pebisnis startups dan para pimpinan dari perusahaan bisa saling bertemu. Di situ mereka bisa saling bertukar gagasan atau ide-ide bisnis lainnya. Di sinilah ide-ide inovasi akan lahir dan berkembang. Anda tahu, inovasi adalah roh dari entrepreneurship.

Pendekatan ala GITA ini tak hanya diterapkan di Indonesia, tetapi juga dipakai oleh sejumlah PT bisnis di Uni Eropa. GITA, yang merupakan kolaborasi antara UoG Business School dengan PresUniv dan beberapa kampus terkemuka lainnya, dipimpin oleh Prof. Neil Towers, peneliti utama di universitas itu. Di GITA, Prof Towers dibantu oleh Gideon Capie yang juga Funding Manager di UoG Business School, dan Nadine Sulkowski, Lead of International Development di universitas tersebut. Kata Sulkowski, “Kami mengidentifikasi, kurangnya budaya entrepreneurial, ruang dan tempat yang pas, serta sumber daya dan interaksi antara universitas di Indonesia dengan perusahaan-perusahaan, sebagai tantangan penting dalam penerapan GITA.”

Melalui GITA, dengan triangular approach-nya, UoG Business School memperkenalkan alat ukur untuk menilai apakah suatu universitas sudah menjadi Entrepreneurial University atau belum. Alat ukur itu disebut HEInnovate, peranti self assesmentonline untuk menilai apakah suatu lembaga pendidikan tinggi sudah membangun iklim entrepreneurship di lingkungan kampusnya. Dengan HEInnovate, lembaga pendidikan tinggi dapat menilai sendiri soal ini.

Apa saja yang diukur melalui HEInnovate? Sekurang-kurangnya ada tujuh dimensi. Kita akan membahas soal ini pada edisi berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here