Tujuh Dimensi Self-Assesment Bagi Entrepreneurial University

0
60

CIKARANG, presidentpost.id – Dua tulisan sebelumnya sudah memaparkan tentang salah satu kriteria dari Entrepreneurial University dan pendekatan yang dipakai untuk membuat suatu perguruan tinggi (PT) memiliki karakter entrepreneurship. Kali ini kita akan membahas bagaimana suatu PT dapat melakukan penilaian sendiri (self-assesment) tentang sudah seberapa entrepreneurialkah mereka?

Untuk itu kita perlu sedikit berkenalan dengan HEInnovate. Apa itu? HEInnovate bermula pada Maret 2011 dalam ajang University Business Forum, sebuah forum dialog dan saling bertukar pengetahuan antara universitas-universitas di Eropa dengan para pebisnis yang ada di kawasan tersebut. Lalu, pada 2013 inisiatif tersebut dikembangkan oleh European Commision dan OECD serta enam panel ahli menjadi semacam inisitiatif dan sekaligus jejaring.

Salah satu bentuk dari inisiatif tersebut adalah bagaimana suatu PT yang ingin mengembangkan atmosfer kewirausahaan di kampusnya dapat menilai dirinya sendiri, “Sudah seberapa entrepreneurshipkah saya?” Untuk itu HEInnovate kemudian mengembangkan perangkat self-assesment yang mencakup tujuh area atau dimensi. Melalui perangkat ini, suatu PT bisa menilai kondisinya pada saat ini dan area atau dimensi mana saja yang potensial untuk ditindaklanjuti agar bisa menjadi Entrepreneurial University.

Merujuk HEInnovate, ada tujuh area atau dimensi yang bisa dinilai sendiri oleh pihak PT. Apa saja?

Leadership & Governance. Ini untuk mengukur komitmen pimpinan PT terhadap upaya membangun budaya entrepreneurship dan inovasi. Ukuran simpelnya, adakah kata “perusahaan” atau “korporasi” dan kata “entrepreneurship” dalam visi misi suatu PT?

Organisational Capacity: Funding, People and Incentives. Di sini kapasitas organisasi dipakai untuk mengukur kemampuan PT dalam merealisasikan strateginya. Jika suatu PT betul-betul berkomitmen untuk mengusung aktivitas entrepreneurship, mereka mesti punya sistem pendukungnya. Sistem ini menyangkut aspek pendanaan dan investasi, SDM-nya, pengetahuan dan keahlian, serta insentif-insentif untuk mendukung tumbuh kembang dan kontinuitas kapasitas entrepreneurial dari PT tersebut. Jika ini semua tidak ada, lupakanlah!

Entrepreneurial Teaching & Learning. Kuncinya adalah suatu PT perlu memiliki metode pembelajaran yang inovatif dan menemukan cara-cara untuk merangsang tumbuhnyaentrepreneurial mindset. Ini bukan hanya soal pembelajaran tentang entrepreneurship, tapi juga bagaimana PT senantiasa terekspos dengan pengalaman-pengalaman entrepreneurial dan kemampuan dalam merengkuh keahlian dan kompetensi untuk mengembangkan entrepreneurial mindset.

Preparing and Supporting Entrepreneurs. PT, termasuk jejaring di HEInnovate, bisa membantu mahasiswa, alumni dan staf yang ingin berkarier sebagai pebisnis. “Berikan kesempatan kepada mereka untuk bebas mengembangkan ide-ide dan jejaringnya dalam suatu lingkungan yang kondusif,” kata Nadine Sulkowski, Lead of International Development dari University of Gloucestershire (UoG), sebuah PT asal Inggris yang bersama-sama dengan President University menggagas workshop GITA, Growing Indonesia – a Triangular Approach, sebuah pendekatan untuk membangun EntrepreneurialUniversity di Indonesia dengan memakai inisiatif HEInnovate.

Bagi mereka yang tertarik untuk membangun bisnis sendiri, bantuan dari PT bisa diberikan dalam bentuk sumbangan ide, evaluasi dan bahkan sampai ke level aksi. Juga, PT bisa memfasilitasi pengembangan keahlian yang diperlukan dalam berbisnis, membangun teamwork, serta akses ke keuangan dan jejaring.

Knowledge Exchange and Collaboration. Pertukaran pengetahuan bisa menjadi katalis bagi organisasi untuk berinovasi. Ini juga bisa memberikan sumbangan berharga bagi kemajuan proses pembelajaran dan riset. Kata Anggraeni Permatasari, Director of Center for Entrepreneurship Studies yang juga dosen bisnis di President University, “Dengan adanya instrumen ini, kita bisa belajar dari universitas lain yang berhasil mengembangkan kampusnya menjadi Entrepeneurial University.”

Lalu, menurut Reni, panggillannya, terbuka juga peluang bagi suatu PT untuk melakukan kolaborasi dengan universitas-universitas lain yang tergabung dalam jejaring HEInnovate. Saat ini di Eropa saja sudah ada 500-an kampus dari 30 negara di sana yang tergabung dalam jejaring tersebut. Pertukaran pengetahuan dan kolaborasi bisa dilakukan PT dengan industri, pemerintah dan kelompok masyarakat lainnya.

The Internasiolised Institution. Internasionalisasi adalah proses untuk mengintegrasikan dimensi global ke dalam bidang pendidikan, riset dan pertukaran pengetahuan. Internasionalisasi juga bisa menjadi “kendaraan” untuk melalukan perubahan dan pengembangan. Adakah PT mendukung mobilitas internasional bagi para staf dan mahasiswanya?

Measuring Impact.PT yang mengusung konsep entrepreneurial dan inovatisi juga mesti memahami dampak dari perubahan-perubahan yang mereka bawa bagi institusinya. Ada sejumlah ukuran yang bisa dipakai untuk menilai. Di antaranya, berapa banyak hak kekayaan intelektual yang dihasilkan oleh PT tersebut, bagaimana kualitasnya, kemampuan dalam menghasilan pendapatan, kontribusinya terhadap perkembangan ekonomi di tingkat lokal, dan lain sebagainya.

Jadi, HEInnovate bukan hanya instrumen self assesment. Ia juga pintu masuk bagi universitas-universitas yang ingin mengembangkan kampusnya menjadi Entrepreneurial University.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here