Dialog Industri President University, Ridwan Kamil Siapkan “1 Village 1 Enterprise”

0
346
Ridwan Kamil menyampaikan persentasinya dalam Dialog Industri President University yang menghadirkan Paslon Cagub Jawa Barat

CIKARANG, presidentpost.id – President University sebagai perguruan tinggi yang berbasis di Kawasan Industri Jababeka mengadakan acara “Dialog Industri” yang menghadirkan 2 pasangan calon (paslon) Pilgub Jawa Barat.

Pasangan Calon yang hadir antara lain, Paslon nomor 1, Ridwan Kamil dan Pasangan Calon nomor 3 yaitu Sudrajat yang digelar di President Executive Club, Jababeka, Cikarang, Selasa (27/3).

Dalam kesempatannya Ridwan Kamil menjelaskan tugas seorang pemimpin itu ada dua, yang pertama membawa perubahan dan kedua mengakselerasikan kemajuan.

Perubahan itu menghadirkan yang ada dari tidak ada, sementara mengakselerasikan kemajuan itu membuat yang luar biasa dari hal yang biasa-biasa. Dua hal itulah menurutnya sebuah cara mengukur seorang pemimpin.

Mantan Walikota Bandung ini pun membagikan pengalamannya bagaimana menjadi seorang pemimpin harus mendengarkan kemauan serta keluhan warga dan mampu memberikan solusi dengan visi-misi yang diberikan.

“Dua tahun lalu saya buat kebijakan untuk Usaha Kecil Menengah (UKM) tidak usah menggunakan izin, karena sebagai walikota waktu itu saya punya cara menerjemahkan kata registrasi menjadi pemberitahuan,” kata pria yang disapa Kang Emil ini.

“Pemimpin lain diberbagai daerah menerjemahkan kata registrasi menjadi perizinan maka jadilah situasi yang rumit. Saya terapkan cara tersebut, selama enam bulan lahirlah 30 ribu perusahaan UKM baru,” sambungnya.

Ridwan berkata bahwa, “the power of kekuasaan dipakai untuk perubahan lewat mendengarkan curhatan warga dan mencari solusinya.”

Program unggulan lain dari pasangan tim Ridwan Kamil adalah Pariwisata. Ia melihat potensi wisata yang besar saat ini, khususnya di Jawa Barat, “Di salah satu bukit di Kuningan dibuatlah panggung  yang dijadikan tempat berselfie dengan hanya membayar Rp. 10.000.”

“Dalam satu tahun saja mendapatkan penghasilan 1,2 milyar rupiah yang berdampak baik bagi warga sekitar dengan menggunakan konsep tersebut,” urainya.

Untuk visi ekonomi, Konsep yang dilakukan timnya yaitu mengurangi ketimpangan di Jawa Barat. Seperti perbedaan yang dapat dirasakan antara wilayah Jawa Barat di bagian utara dengan Jawa Barat bagian selatan.

“Tidak ada daya upaya dan negara belum memberi gagasan dan solusi yang konkrit. Maka dari itu kami memiliki program “1 village 1 enterprise” (1 desa 1 perusahaan),” jelas pria yang juga seorang Arsitek ini.

Ia menjelskan dengan program “1 village 1 enterprise” atau “1 desa 1 perusahaan”. Mereka hanya mengambil bagian dan ikut memproduksi apa yang ditentukan oleh Perusahaan desa tersebut, sehingga UMR desa bisa setara dengan UMR di kota.

“Sudah dilakukan di Cirebon. Di salah satu desa produksi hanya mengolah sampah dengan cara memilah dan mencacah sampah plastik dan dijual, warga tersebut mendapatkan pengasilan sebesar 2 juta rupiah perbulan,” Jelas Emil.

Dengan penghasilan dalam jumlah tersebut, lebih besar dari UMR di daerah itu. Ridwan berharap ada enam ribu desa lain yang bisa melaksanakan program serupa.

“Bayangkan jika semua desa bisa lakukan hal itu maka ketimpangan dapat berkurang, tidak perlu hijrah ke kota,” pungkasnya.

Sebagai urban planer yang pernah mendesain kurang lebih 12 kawasan industri, Ridwan mengungkapkan  bahwa selain peningkatan ekonomi, ia juga fokus pada infrastruktur sebagai pendukung dan penggerak laju ekonomi sehingga menjadi kemudahan bagi industri melakukan kegiatannya.

“Saya akan tawarkan, yang pertama akan saya perjuangkan infastruktur jalan diantara kawasan industri, dan penggunaan sebagian Bandara Kertajati sebagai bandara logistik,” jelasnya.

Selain itu Ridwan ingin menggagas sekolah berbasis industri didukung digital, serta hunian di lokasi dekat kawasan industri yang akan menurunkan cost para pekerja. (Harwin/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here