Peringatan Hari Kartini, Perempuan Agen Perubahan Pencegahan Korupsi

0
379
jogjaprov.go.id

YOGYAKARTA, presidentpost.id – Setiap perempuan dipastikan mampu berperan lebih sebagai agen perubahan. Memiliki peran sentral di keluarga, utamanya dalam hal pendidikan anak-anak, perempuan dapat menjadi agen pencegahan korupsi demi mewujudkan Indonesia yang bersih dari korupsi.

Hal ini disampaikan oleh GKR Hemas dalam Sarasehan Peringatan Hari Kartini ‘Perempuan Agen Perubahan Pencegahan Korupsi’ pada Selasa (17/4) di Gedhong Pracimasana Kepatihan Yogyakarta. GKR Hemas mengungkapkan, dengan memanfaatkan peringatan Hari Kartini, perempuan Indonesia tidak lagi hanya terus bicara soal kesehatan dan pendidikan, tapi juga pemerintahan dan pelayanan masyarakat.

“Kalau pemerintahan tidak bersih, pemerintah jadi tidak bisa memfasilitasi hak-hak dasar seperti pendidikan dan kesehatan dengan menjadikannya hal yang utama dalam anggaran. Apalagi sebetulnya perempuan itu bisa jadi agen perubahan. Saya selalu menganggap bahwa semua perempuan Indonesia mampu,” ujarnya, dikutip dari jogjaprov.go.id.

Menurut GKR Hemas, dalam upaya mencegah tindak korupsi, perempuan bisa berperan sebagai pembelajar, sebagai agen perubahan. Bagaimana perempuan bisa mendidik anak-anaknya, ikut mendidik cucu, serta terus mampu mendampingi suami. Perempuan juga menjadi penentu kehidupan bangsa karena sosok perempuan dalam keluarga turut menentukan lahirnya generasi bangsa yang kreatif, mandiri, dan berintegritas.

“Perempuan memiliki peran sentral, sehingga dalam pendidikan keluarga, perempuan harus bisa memberikan landasan moralitas yang kuat. Dengan begitu akan lahir generasi yang tahu akan rambu-rambu dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya,” imbuh GKR Hemas.

Ketua Umum Panitia Hari Kartini Tahun 2018, Dessy M. Zamroni mengatakan, upaya pemberantasan korupsi tidak bisa dilakukan hanya dengan memangkas yang terlihat saja. Gerakan sosial pemberantasan korupsi merupakan kebangkitan masyarakat untuk bersama-sama melakukan koreksi terhadap kondisi dan menghadirkan kehidupan yang lebih baik.

“Tujuan gerakan anti korupsi tidak hanya agar bisa mengubah perilaku dalam hidup masyarakat, tapi juga bagaimana mengubah tatanan sosial yang bebas korupsi. Dalam hal ini, keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dapat menjadi inti gerakan sosial pemberantasan korupsi di Indonesia,” ujarnya.

Dessy M. Zamroni menambahkan, keluarga memiliki pengaruh yang signifikan dalam mengupayakan gerakan anti korupsi, sehingga dapat menjadi sandaran bahkan tuntunan bagi unit sosial yang lebih besar. Kontribusi perempuan dalam upaya pemberantasan korupsi ada di setiap perannya, baik sebagai ibu, istri, maupun ketika mendapat kepercayaan memegang jabatan tertentu.

“Perempuan sebagai ibu bisa mendidik anak-anaknya dengan menanamkan nilai moral, budaya malu dan mendorong kejujuran. Sebagai istri, perempuan bisa menjadi filter dengan menanyakan asal muasal uang yang diterima suami. Di lingkungan kerja, perempuan bisa mengkampanyekan gagasan transparansi dan pengurangan gaya hidup konsumtif,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Tinggi DIY Sri Harijati, SH., MM., mengatakan, alasan belum makmurnya rakyat Indonesia salah satunya karena faktor korupsi. Korupsi telah terbukti bisa menghambat pembangunan dan mempengaruhi semua lini kehidupan masyarakat. “Dan pilar utama pencegahan korupsi itu juga dari pendidikan, jadi patut disadari besarnya peran perempuan dalam mendidik anak,” ungkapnya.

Aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) Donal Fariz mengatakan, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling lengkap memiliki anti-corruption criminal justice system. Bahkan Indonesia menjadi satu dari sedikit negara di dunia yang memiliki pengadilan khusus tindak pidana korupsi.

“Korupsi itu tidak mungkin diberantas tanpa adanya kesadaran hukum masyarakat. Jadi ke depan, kita bersama-sama harus berupaya menumbuhkan kesadaran hukum paling tidak untuk diri sendiri dan keluarga,” imbuhnya. (TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here