Maybank Adakan Pemberdayaan Ekonomi Untuk Komunitas Penyandang Disabilitas

0
356
wartaekonomi.co.id

JAKARTA, presidentpost.id – Maybank Indonesia dan Maybank Foundation mengadakan program pemberdayaan ekonomi berkelanjutan bagi komunitas penyandang disabilitas bertajuk “Reach Independence & Sustainability Entrepreneurship” (RISE). Pelatihan RISE di Makassar diikuti 101 penyandang disabilitas yang memiliki beragam lini usaha, mulai dari penjahit, usaha bengkel, pedagang warung kelontong & sayuran, jasa perbaikan elektronik, peternak ayam, usaha kuliner, pemangkas rambut, usaha pembuat telur asin, jasa guru TPA, dan kursus menjahit.

CEO Maybank Foundation, Shahril Azuar Jimin, berkata bahwa melalui program RISE, Maybank Group turut mendukung upaya membangun komunitas berdikari dengan menjangkau lebih banyak penerima manfaat. selaras dengan misi humanising financial services.

“Program ini juga selaras dengan misi ASEAN dan lima sasaran united naitons sustainable development goals yaitu tanpa kemiskinan, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak dan mengurangi kesenjangan,” tutur Shahril dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (17/4).

Head, Corporate Communications, & Branding Maybank Indonesia, Esti Nugraheni, berkata bahwa pemberdayaan ekonomi merupakan salah satu fokus corporate responsibility Maybank Indonesia. Selaras dengan misi humanising financial services, Maybank Indonesia secara konsisten memberikan perhatian kepada individu maupun komunitas wirausaha penyandang disabilitas dengan berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan.

“Kami berharap program ini dapat membangun dan meningkatkan kapabilitas usaha mikro-UKM,” kata Esti, seperti yang dikutip dari wartaekonomi.co.id.

Pelaksanaan program RISE di Makassar ini adalah rangkaian program untuk memberikan pelatihan kepada 2.200 penyandang disabilitas yang akan dilakukan hingga 2019 di sedikitnya 13 kota di Indonesia. Selain di Indonesia, Program RISE telah diikuti lebih dari 1.300 peserta di Malaysia, kemudian pada 2016 mulai dikembangkan ke regional, termasuk ke Indonesia dan Filipina.

Berdasarkan survei Nottingham University Malaysia, dari awal implementasi program hingga Juli 2017, sebanyak 40% peringkat terbaik dari penyandang disabilitas yang mengikuti program ini telah berhasil memulai atau meningkatkan kapabilitas usaha hingga 351,8%. (Eva/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here