Dalam Rangka Persiapan Regulasi LCEV, Menperin Kunker ke Jerman

0
170

JERMAN, presidentpost.id – Bersamaan persiapan regulasi low carbon emission vehicle (LCEV) yang tak kunjung rampung, pemerintah melalui Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto melakukan Kunjungan Kerja (kunker) ke Fraunhofer Gesellschaft di Munich, Jerman, sebagai upaya sekligus bagian dari upaya pemerintah menerapkan peta jalan industri 4.0 di Indonesia.

Menurut Menperin Airlangga Hartarto, Indonesia sudah seharusnya bisa membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global dengan menerapkan standar-standar keberlanjutan. Untuk itu, diperlukan penggunaan teknologi terkini khususnya yang berkonsep pada ramah lingkungan.

“Oleh karenanya, kami akan mengunjungi Fraunhofer, yaitu lembaga riset yang ada di Jerman. Lembaga riset Jerman ini sedang mengembangkan satu jenis algae yang bisa mengkonversi palm oil mill effluent (POME) menjadi gasoline. Itu beberapa riset yang nanti kami lihat,” ungkapnya dalam siaran resmi.

Penemuan tersebut dinilai dapat menekan emisi gas buang kendaraan dan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM).

Hal tersebut seiring dengan program yang telah diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin), yakni low carbon emission vehicle (LCEV) untuk mendorong industri otomotif di Indonesia memproduksi kendaraan ramah lingkungan.

“Riset terhadap biofuel ini harus dilakukan, karena Indonesia merupakan salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Kita juga punya rumput laut. Keduanya sedang dilakukan riset, dan pemerintah siap memberikan insentif,” pungkasnya.

Di samping itu, salah satu dari 10 langkah prioritas nasional di dalam Making Indonesia 4.0, pemerintah berupaya menarik minat investasi asing di Tanah Air. Upaya ini dapat mendorong transfer teknologi ke perusahaan lokal.“Untuk mening­katkan investasi, Indonesia akan secara aktif melibatkan perusahaan manufaktur global, dengan memilih 100 perusahaan manufaktur teratas dunia sebagai kandidat utama dan menawarkan insentif yang menarik untuk berkolaborasi dengan industri nasional,” jelas Menperin.

Sepanjang 2010-2015, nilai keseluruhan investasi Jerman di Indonesia mencapai US$552 juta dengan 547 proyek yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 38.382 orang.Sedangkan, pada 2017, nilai investasi Jerman di Indonesia untuk sektor manufaktur sebesar US$79,3 juta dengan total 108 proyek, naik dibanding capaian investasi tahun sebelumnya sebesar US$58,5 juta dengan 59 proyek. Proyek investasi Jerman tersebut didominasi oleh sektor industri baja dan mesin, kimia dan farmasi, serta otomotif. (Heros/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here