Menurut Jusuf Kalla, Tiga Karakter ini Melekat Pada Tokoh Minang

0
464

PADANG, presidentpost.id – Berbicara karakter pada diri tokoh- tokoh Minang, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengatakan ada tiga hal yang sangat dikenal pada diri tokoh orang Minang sejak jaman dulu, yakni pengusaha yang ulet, pemuka agama, dan para cerdik pandai atau cendikia.

“Pada zaman sekarang ketiga karakter tersebut.. bisa dihasilkan oleh perguruan tinggi, oleh sebab itu generasi muda Minang harus bersungguh-sungguh mewujudkan (tiga karakter itu),” kata dia di Padang, Rabu.

Ia menyampaikan hal itu saat membuka acara program pendampingan kewirausahaan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Sumatera Barat di hadapan sekitar 2.500 mahasiswa.

Wapres mengatakan tokoh- tokoh Minang yang dikenal pada tingkat nasional adalah para cerdik pandai seperti Bung Hatta, Syahrir, Agus Salim dan lainnya.

“Mereka semua dikenal karena visi dan kecerdasannya, bukan karena bawa pedang,” ujar dia.

“Para generasi muda Minang harus mempertahankan tradisi ini yaitu menjadi pengusaha yang ulet, tokoh agama hingga seorang pemikir,” kata dia.

JK menceritakan kalau di Jakarta dulu saat shalat Jumat sembilan dari 10 khatibnya adalah orang Padang, tapi sekarang jumlahnya sudah mulai berkurang.

“Artinya terjadi penurunan, dulu orang belajar agama ke Padang Panjang, sekarang orang Minang belajarnya ke Gontor,” lanjut dia.

Ia juga mengatakan sumber daya alam di Sumbar tidak sebaik daerah lain seperti Riau.

“Oleh sebab itu salah satu yang harus ditekankan adalah meningkatkan kemampuan kewirausahaan dikalangan mahasiswa dan generasi muda,” ujar dia.

Ia menyebutkan jika mahasiswa masih berkeinginan jadi pegawai negeri, setiap tahun paling banyak pembukaan lowongan untuk menjadi pegawai hanya sekitar 50 ribu, sedangkan jumlah lulusan perguruan tinggi per tahun bisa mencapai 1 juta orang.

“Artinya kecil sekali peluang jadi pegawai (negeri), hanya 0,5 persen,” ujarnya.

Sementara Rektor Uiversitas Negeri Padang Prof Ganefri menilai jiwa wirausaha atau enterpreneur dikalangan mahasiswa mulai luntur karena terobsesi menjadi pegawai.

Seharusnya mahasiswa yang lulus dari perguruan tinggi bukan lagi mencari pekerjaan, akan tetapi harus mampu menciptakan pekerjaan.

“Ini yang coba kita tanamkan melalui pendidikan kewirausahaan di kampus,” kata dia. (Heros/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here