Mahasiswa Asal Indonesia di MDIS Catat Prestasi di Youth Entrepreneurship Competition 2018 di Singapura

0
59

JAKARTA, presidentpost.id –  Kompetisi bernama Entrepreneurship Competition (YEC) 2018 digelar belum lama ini di Singapura. Diantara pemenangnya adalah mahasiswa dari kampus Management Development Institute of Singapore (MDIS) asal Indonesia. Mereka berhasil menyabet tiga piala sekaligus membuktikan keterampilan, jiwa kewirausahaan dan kepemimpinan dalam mewujudkan ide bisnis kreatif mereka.

Dari 34 tim yang bertanding, ada dua tim yang dikirimkan oleh MDIS untuk ikut kompetisi bernama Eat 4 Dead dan The Walking Diet. Di masing-masing tim diisi oleh mahasiswa MDIS asal Indonesia. Di tim Eat 4 Dead, misalnya, ada Puspa Aroma, 21, Bachelor of Science (Hons) in Business Studies and Finance. Puspa adalah ketua tim. Kemudian Winnyvan Kheng, 20, Alvian Chandra, 20,  dan Elvien Kheng, 19.

Sedangkan di tim The Walking Diet, ada Evelyn Frances, 20, Bachelor of Science (Hons) in Business Studies and, lalu Cindy Marcella, 19, Bachelor of Arts (Hons) Business and Marketing (Top-up); Poppy, 19, Bachelor of Science (Hons); Helene Agatha, 19, Bachelor of Arts (Hons) Accounting and Financial Management (Top-Up); dan  Sharlene Usman, 19, Bachelor of Science (Hons) Biotechnology. Semuanya berasal dari Indonesia.

Menurut Puspa Aroma, timnya berhasil membuat para juri terkesan dengan kecerdasan bisnis dan penjualan mereka dimana mereka berhasil mengambil posisi 1st Runner-Up (Category B – tertiary level), dan juga penghargaan “Best in Business Plan” serta  “Best in Retail Identity”.

“Karena tema kompetisi ini adalah zombie, maka ini agak menantang bagi kami untuk memunculkan ide baru. Kami memutuskan untuk menjual makanan dan minuman kepada target yang jelas yaitu remaja. Maka kami menawarkan menu makanan yang bisa membuat merinding, mulai dari pizza berbentuk tengkorak, puding pemakaman, dan banyak lainnya,” kata Puspa.

Puspa menyebut kompetisi YEC adalah kompetisi pertama baginya sejak datang dari Indonesia ke Singapura. Dia belajar banyak terutama mengenai kerja sama, komunikasi dengan anggota tim, dan memahami gambaran besar mengenai bisnis ini. “Hal penting lainnya, saya mempelajari keterampilan untuk mengatur waktu melalui kompetisi ini. Karena saya adalah mahasiswa jurusan bisnis, kompetisi ini sangat membantu buat saya, terutama untuk mengembangkan berbagai keterampilan saya dan menyiapkan masa depan.”

Meski ikut YEC pertama kali, namun Puspa tercatat sudah berpartisipasi dalam Parade Chingay selama tiga tahun berturut-turut mulai 2016, 2017, dan 2018, dan dia telah menerima berbagai sertifikat dari kegiatan tersebut.

Alvian Chandra, mahasiswa asal Indonesia lainnya, mengaku berperan dalam urusan logistik dan pemasaran dalam tim Eat 4 Dead.

“Urusan saya adalah logistik dan tim pemasaran. Membawa barang-barang dari suplier dan menjual barang dagangan tersebut dalam troli dengan menggunakan cosplay seperti zombie untuk menarik perhatian orang dan menjual produk melalui pemasaran langsung orang ke orang,” kata Alvian Chandra.

Dia mengaku kreatifitas adalah tantangan terbesar dalam kompetisi seperti ini. “Saya belajar banyak terutama soal kerja sama, teknik pemasaran dan lainnya.”

Hal senada disampaikan Elvien Kheng. Mahasiswi yang pernah meraih juara 2 kompetisi Dota, kompetisi game di Jakarta ini, kompetisi kewirausahaan sangat bermanfaat baginya untuk menjawab tantangan ide baru. “Tantangan terbesar adalah menemukan ide baru, jadi kami melakukan improvisasi dengan ide-ide yang sudah ada. Yang terpenting lagi saya belajar bagaimana mengelola suatu bisnis,” kata dia.

Sementara mahasiswa asal Indonesia lainnya, Winnyvan Kheng menilai, kewirausahaan menuntut inovasi, dan perencanaan yang telah tersusun secara matang, sehingga menurutnya, tim telah menyusun rencana bisnis yang cukup baik serta rencana pemasaran yang jelas.

“Karena kami juga merupakan bagian dari target sasaran kami (Gen X), jadi kami mengetahui apa yang diinginkan dan dipikirkan oleh anak remaja saat ini, seperti penampilan makanan yang menarik dan unik sehingga terlihat bagus kalau di posting di instagram,” kata dia.

Dalam tim ini, Winny, mengaku lebih banyak menangani sosial media seperti facebook dan instagram untuk terus mengupdate follower mengenai apa yang sedang dilakukan oleh tim. “Saya juga mencari bahan material yang bagus untuk membuat produk kami (tas jinjing, stiker, dan kantung darah),” sambungnya.

Winny sendiri mengaku saat masa persiapan kompetisi dirinya sedang sibuk belajar untuk ujian, sehingga tidak memiliki banyak waktu mengatur persiapan menjelang kompetisi, dan ada juga anggota tim yag pulang ke negara asalnya untuk liburan sehingga sulit komunikasi. Namun kendala itu dapat diatasi dengan baik.

Kompetisi ini memberikan pengalaman langsung kepadanya bagaimana rasanya menjual suatu produk karena selama ini dia lebih banyak menjual produk secara online. “Pengalaman ini akan membuat diri saya menjadi lebih baik, terutama saat saya ingin membuka bisnis sendiri di masa depan dengan mempelajari hal-hal yang sudah saya lakukan dalam kompetesi ini,” begitu Winny.

Winny saat masih SMA di Indonesia pernah mengikuti kompetisi pasar modal dan mendapat ranking 4. Dia juga pernah mengikuti kompetisi ekonomi dan akuntansi bersama tim di 2 universitas swasta yang berbeda di Jakarta dan memenangkan juara 1 dalam 2 kompetisi tersebut.Di Singapura, selain ikut kompetisi YEC dia juga ikut berpartisipasi dalam Chingay.

Tim ini juga menjual beberapa barang dagangan (merchandise) untuk membedakan diri dengan kompetitornya. Beberapa merchandise itu termasuk baju dan tas jinjing dengan maskot zombie yang didesain sendiri oleh mereka. Hasil penjualan ini akan disumbangkan ke REACH Youth Powerhouse.

Ketua tim Puspa Aroma mengatakan, “Kami kehabisan kata karena tidak hanya 1 piala yang bisa kami dapatkan, tetapi 3! Seperti kata pepatah ‘dengan kerja keras, maka sukses besar akan tercapai’, setelah berbulan-bulan melakukan persiapan dan menghadapi berbagai rintangan, kami akhirnya dapat membuktikan konsep dan keterampilan bisnis yang telah kami pelajari selama di kampus,” kata Puspa Aroma.

Dikatakan, ini adalah pertama kalinya mereka berpartisipasi pada Youth Entrepreneurship Competition. Pengalaman serta penghargaan yang diterima telah membuat mereka menyadari bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika diiringi dengan kerja keras serta ketekunan untuk mendapatkan hal-hal yang baik. “Kami tidak bisa mencapai ini semua tanpa dukungan dari pembimbing kami dari MDIS Business School dan rekan-rekan. Mereka memotivasi kami untuk melakukan yang terbaik!”, ujar Puspa yang juga merupakan mahasiswa tingkat akhir program Bachelor of Science (Hons) in Business Studies and Finance di MDIS.

Tim The Walking Diet: Makanan Kaya Nutrisi yang Bikin Ketagihan

“Makan sehat” untuk Zombie merupakan hal yang menjadi fokus tim The Walking Diet di YEC. Salah satu makanan yang menarik banyak perhatian dari menu tim adalah “Bloody Bowl” yang terbuat dari pisang dengan sentuhan buah acai. Makanan ini dihidangkan seolah-olah menyerupai jari yang terputus atau zombie mini yang terbuat dari gandum batangan dan coklat yang dilelehkan. Menu lain yang ditawarkan adalah jus buah ‘Zombie Cure’ yang merupakan campuran jus wortel dan jeruk yang bisa bikin ketagihan dan secara instan dapat membuang rasa lesu peminumnya.

Untuk mendukung bisnis yang sehat, tim tersebut mendonasikan sebagian hasil penjualan mereka kepada masyarakat penderita kanker di Singapura.

“YEC menyediakan peluang bagi kami untuk memenuhi keinginan kami untuk menjadi wirausahawan. Semua proses ini telah memperkaya kami dengan pengetahuan dan keterampilan bisnis. Kami juga berkonsultasi dengan pihak ketiga dan melakukan riset pasar untuk mengoptimalkan penjualan kami”, ujar mahasiswa Indonesia berumur 20 tahun, Evelyn Frances yang juga sedang mengejar program Bangor University, Bachelor of Science (Hons) in Business Studies and Finance di MDIS.

“Aspek penting lainnya, kami juga mempelajari berbagai soft skill seperti kerjasama tim, presentasi, dan negosiasi. Kesuksesan suatu bisnis adalah hasil dari kerjasama yang baik diantara anggotanya, ” ungkap Evelyn.

Sementara Cindy Marcella, anggota tim The Walking Diet menyebut kompetisi ini memberikan pengalaman berharga untuk memulai bisnis. “Kompetisi ini memberikan kami suatu pengalaman baru bagaimana rasanya memulai bisnis sendiri. Kompetisi ini juga meningkatkan keterampilan kerjasama, kepemimpinan, dan juga bagimana memotivasi orang lain,” kata Cindy Marcella. (TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here