Mendag Pastikan Harga Daging Sapi Bakal Turun Usai Lebaran

0
204
twitter.com/enggarmendag

JAKARTA, Presidentpost.id – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita  mengklaim harga dan pasokan bahan kebutuhan pokok (bapok) terkendali selama puasa dan Lebaran 2018. Hal ini berdasarkan hasil pantauan langsung di beberapa pasar rakyat di Bandung, Denpasar, Banyuwangi, Surabaya, Kupang, Cirebon, Palangkaraya, Palu, Kendari, dan Makassar.

“Pada periode puasa dan Lebaran 2018, secara keseluruhan semua bapok tersedia,” ujar dia dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (22/6).‎‎

Stabilnya harga dan ketersediaan bahan pokok menjelang puasa 2018, diakui Enggartiasto, terlihat dalam tingkat inflasi umum dan inflasi kelompok bahan makanan nasional pada Mei 2018 yang masing-masing sebesar 0,21 persen.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu inflasi umum sebesar 0,39 persen dan inflasi kelompok bahan makanan 0,86 persen.

“Semua harga terkendali dan tidak ada lonjakan yang berarti, kecuali harga daging ayam akibat berkurangnya pasokan dan daging sapi yang sempat naik akibat peningkatan permintaan yang sangat signifikan terutama pada H-2 dan H-1 Lebaran,” kata dia.

Terkait dengan lonjakan harga daging sapi segar jelang Lebaran, Enggartiasto menyatakan sifatnya hanya sementara. Dia memperkirakan harga akan kembali ke tingkat normal pasca Lebaran.

Dia mengungkapkan, Kementerian Perdagangan akan terus memantau dan mengawasi secara intensif terkait dengan kenaikan komoditas tersebut.

‎”Untuk mengatasi kenaikan harga daging ayam, Kemendag telah mengeluarkan kebijakan harga khusus, baik di pasar rakyat maupun toko swalayan yang bervariasi untuk setiap wilayah. Sementara untuk daging sapi segar, kenaikan harganya hanya bersifat sementara dan diperkirakan akan kembali normal pasca Lebaran,” tandas dia.‎

Sementara, untuk harga ayam di Bali mencapai Rp 35 ribu, namun akan diupayakan agar menjadi Rp 33 ribu di pasar Desa Adat Pecatu. Menurutnya, kenaikan harga ayam dan telur beberapa waktu yang lalu dikarenaka suplainya terbatas.

“Kenapa suplainya terbatas, karena mengurangi kadar anti biotik di pakan. Sehingga tingkat kematian dari ayam itu tinggi, kerena tidak diiringi dengan kandang yang tidak lebih higenis di pertenak mandiri. Namun, di pertenak yang modern mereka sudah relatif aman,” ujarnya. (Heros/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here