Menteri Ekonomi Asean dan Mitra Asean Bahas Percepatan Perundingan

0
181
Pressrelease.id

Tokyo, presidentpost.id – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita meminta negara-negara peserta Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) mengedepankan fleksibilitas dalam perundingan guna mewujudkan Pakta Perdagangan Mega Free Trade Agreement (FTA), RCEP. Hal ini disampaikan Mendag pada pertemuan intersesi Menteri RCEP ke-5 di Tokyo, Jepang, pada Minggu (1/7).

Para Menteri Ekonomi dari 16 negara peserta RCEP kembali melakukan Pertemuan Intersesinya yang ke-5 dalam upaya mendorong penyelesaian perundingan RCEP secara substansial di akhir tahun 2018. Para Menteri secara intensif membahas penyelesaian berbagai isu yang belum dapat dituntaskan oleh Komite Perundingan RCEP, khususnya isu-isu yang sensitif secara politis.

Mendag menyampaikan bahwa meski perundingan sudah berlangsung 5 tahun namun kemajuan perundingan berjalan lambat. Kenyataan bahwa terdapat kesenjangan ambisi di antara negara peserta RCEP di hampir seluruh bidang perundingan. Fakta lainnya bahwa beberapa negara mitra ASEAN tidak mempunyai hubungan FTA dengan sesama Negara Mitra ASEAN, misalnya antara India dan RRT, mengakibatkan kesepakatan sulit dicapai.

Pada kesempatan intersesi ini, Menteri Enonomi ASEAN mencoba bertukar pikiran tentang bagaimana menjembatani kesenjangan ambisi ini. “Para Menteri Ekonomi ASEAN akan mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan waktu yang lebih lama bagi Negara Mitra tersebut, khususnya yang belum memiliki perjanjian FTA dalam memenuhi kesepakatan menuju kesepakatan yang bersifat “common consession”nantinya,” ujar Mendag.

Pada pertemuan RCEP ini, Mendag mendapatkan kesempatan menyampaikan review atas revisi ketiga tariff offer dari seluruh peserta RCEP dalam upaya mencapai tariff commitment RCEP yang secara komersial menguntungkan untuk semua peserta RCEP.

“Ada sejumlah peningkatan dalam penawaran ketiga yang ditunjukkan oleh negara peserta, khususnya terkait offer yang ditargetkan untuk eliminasi. Namun pada saat yang sama juga masih terdapat disparitas jumlah offer kepada negara peserta RCEP, khususnya negara mitra dengan sesamanya,” terang Mendag.

Menurut Mendag, para Menteri RCEP sangat menyadari bahwa penyelesaian perundingan RCEP tahun ini sangat krusial. Hal ini mengingat situasi perdagangan global yang saat ini sedang menghadapi maraknya tindakan proteksionisme yang melahirkan tindakan perang dagang (trade war) dan dikhawatirkan akan berdampak trade diversion dimana terjadi pengalihan ekspor dari negara yang sedang perang dagang ke negara lain.

“Para Menteri menegaskan kembali komitmennya untuk mengintensifkan perundingan agar kesepakatan yang menguntungkan bagi semua anggotanya dapat tercapai sehingga tercapai integrasi ekonomi regional yang melibatkan 10 negara anggota ASEAN dan 6 mitra ASEAN,” ujar Mendag.

Para Menteri menyambut baik kemajuan yang dicapai tim perunding pada semua bidang dan memberikan arahan dan langkah-langkah strategis yang perlu dan harus ditempuh oleh tim perunding untuk memastikan penyelesaian perundingan secara substansial di akhir tahun ini. Dalam hal ini, para tim perunding harus mampu menyelesaikan semua isu yang bersifat teknis dan menyisakan isu politis untuk diselesaikan oleh para Menteri RCEP pada akhir bulan Agustus atau awal September 2018. Langkah strategis percepatan ini sangat penting untuk menjaga kredibilitas RCEP itu sendiri, khususnya kredibilitas ASEAN di mata dunia global, selaku pemrakarsa perundingan ini.

“Dengan arahan dan langkah-langkah strategis, tim perunding diharapkan dapat fokus menyelesaikan isu-isu perundingan baik terkait akses pasar, aturan, dan regulasi fasilitasi perdagangan serta teks perjanjian itu sendiri di akhir tahun 2018,” tandas Mendag.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perundingan Internasional yang juga Ketua Tim Perunding RCEP (TNC), Iman Pambagyo menambahkan, RCEP memiliki banyak manfaat bagi Indonesia. Melalui RCEP, industri dan perekonomian Indonesia akan terhubung dengan lebih baik ke dalam rantai pasokan di kawasan sehingga akan terjadi peningkatan daya saing.

Disamping itu, RCEP juga akan mendorong peningkatan akses pasar bagi UMKM. “RCEP mengatur fasilitasi perdagangan yang dapat mengakomodir UKM dalam mendapatkan bahan baku untuk usahanya dan dapat pula memasarkannya ke 15 negara peserta RCEP lainnya,” tambah Iman.

Di sela pertemuan RCEP, Mendag berkesempatan melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Hiroshige Seko dan Wakil Menteri Perdagangan China, Wang Shouwen. Selain itu, Mendag juga melakukan pertemuan dengan petinggi dari manajemen Toyota dan Daihatsu Group.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here