Mendikbud Klaim Sistem Zonasi Cegah Praktek-Praktek Kecurangan

0
76

JAKARTA, presidentpost.id – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 14 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Peraturan tersebut menggantikan aturan sebelumnya, salah satunya adalah menggunakan sistem zonasi untuk pemerataan peserta didik.

“Untuk pemerataan kualitas dan juga untuk mencegah dan menghilangkan praktek-praktek yang kurang baik selama ini terjadi di dalam dengan sistem sebelumnya,” ujar Mendikbud, Muhadjir Effendy, di Gedung Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (10/7).

Disebutkan Muhadjir, salah satu kecurangan tersebut adalah adanya praktek jual beli kursi antara pihak sekolah dan orang tua siswa.

“Kemudian juga banyak katabelece dari orang-orang tertentu untuk memaksakan agar anaknya masuk di sekolah-sekolah yang dianggap favorit, kemudian juga sulitnya kita membuat peta populasi siswa di sebuah daerah. Karena begitu bebasnya semua siswa bisa pindah atau masuk di semua tempat, sehingga kita sulit memetakan,” kata Muhadjir.

Harapan Muhadjir, dengan adanya sistem zonasi ini, tidak ada lagi para orang tua calon siswa yang berburu sekolah favorit. Dan meratanya kualitas antar sekolah secara nasional.

“Mari kita bergotong-royong untuk membangun sekolah agar semua kualitasnya setara sama. Tidak ada lagi sekolah favorit dan sekolah nomor buncit yang jadi sekolah buangan itu,” pungkas Muhadjir.

Kata Muhadjir, salah satu kecurangan tersebut adalah adanya praktik jual beli kursi antara pihak sekolah dan orangtua siswa.

“Kemudian juga banyak katebelece dari orang-orang tertentu untuk memaksakan agar anaknya masuk di sekolah-sekolah yang dianggap favorit, kemudian juga sulitnya kita membuat peta populasi siswa di sebuah daerah. Karena begitu bebasnya semua siswa bisa pindah atau masuk di semua tempat, sehingga kita sulit memetakan,” papar Muhadjir.

Harapan Muhadjir, dengan adanya sistem zonasi ini, tidak ada lagi orangtua calon siswa yang berburu sekolah favorit, dan meratanya kualitas antar-sekolah.

“Mari kita bergotong-royong untuk membangun sekolah agar semua kualitasnya setara sama. Tidak ada lagi sekolah favorit dan sekolah nomor buncit yang jadi sekolah buangan itu,” harap Muhadjir. (Heros/TPP)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here