Kemenperin Usulkan Pembangunan Laboratorium Berstandar Internasional

0
144

JAKARTA, presidentpost.id – Kementerian Perindustrian mengusulkan pembangunan laboratorium rujukan kimia berstandar internasional di Indonesia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan usulan tersebut dilatarbelakangi keterbatasan laboratorium rujukan kimia di Asia Tenggara. Saat ini di Asean baru terdapat satu laboratorium rujukan kimia yang berlokasi di Singapura.

“Tentu Indonesia sebagai negara yang industri kimianya salah satu yang unggul di Asean, mempunyai kesempatan untuk membangun laboratorium yang sama,” ujarnya seusai membuka acara Sarasehan Otoritas Nasional Senjata Kimia (Otnas) di Jakarta, Senin (23/7).

Laboratorium rujukan tersebut dikembangkan secara khusus untuk analisa prekursor dan hasil degradasi senjata kimia untuk mendukung implementasi Konvensi Senjata Kimia (KSK) di tingkat nasional. Selain itu, laboratorium rujukan kimia dapat digunakan untuk verifikasi barang-barang kimia, termasuk yang bisa dijadikan bahan baku senjata kimia.

Kemenperin akan membicarakan usulan ini dengan the Organization for Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) dan negara-negara anggota Asean lainnya. Menurutnya, selain karena memiliki industri kimia yang besar, Indonesia juga berpeluang besar membangun laboratorium rujukan kimia karena memiliki perwakilan tetap untuk OPCW, yaitu Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja.

Airlangga meyakini laboratorium rujukan kimia tersebut mampu memfasilitasi pengembangan industri kimia nasional agar lebih berdaya saing global terutama dalam memasuki era revolusi industri generasi keempat. Apalagi, industri kimia merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang ditetapkan sebagai pionir dalam implementasi industri 4.0 sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Laboratorium ini juga menjadi bagian dari pengembangan industri 4.0, yaitu pengembangan pusat inovasi,” katanya.

Achmad Sigit Dwiwahjono, Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin, menuturkan pihaknya mengusahakan akan mematangkan kajian pembangunan laboratorium rujukan kimia dan mengirimkan proposal pada tahun ini dengan harapan pelaksanaan pengembangan laboratorium bisa dilaksanakan pada 2019. Cilegon menjadi potensi lokasi pembangunan laboratorium ini karena menjadi pusat industri petrokimia.

“Sekarang ini akreditasi laboratorium di Indonesia kan hanya untuk komoditas tertentu saja. Kalau laboratorium [yang akan diusulkan] ini nanti untuk seluruh bahan kimia yang diperjanjikan di Konvensi Senjata Kimia di bawah OPCW,” jelasnya.

Pada tahun lalu, industri bahan kimia dan barang kimia dalam negeri tumbuh sebesar 3,47% secara tahunan. Industri ini berkontribusi senilai Rp67 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here