High Level Discussion: Indonesia Pusat Ekonomi Islam Dunia

0
238

JAKARTA, presidentpost.id – Menteri Pariwisata Arief Yahya menghadiri acara High Level Discussion: Indonesia Pusat Ekonomi Islam Dunia yang berlangsung di Ruang Rapat Djunaedi Hadisumarto di Kantor Bappenas.

Acara yang merupakan kerja sama antara Bappenas, Komite Nasional Keuangan Syariah, Ikatan Ahli Ekonomi Islam, dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia tersebut dibuka oleh Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, dan dihadiri oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, Kepala Bekraf, Triawan Munaf, Ketua Majelis Ulama Indonesia, KH. Ma’ruf Amin, Ketua Komisioner Baznas, Bambang Sudibyo, dan Ahli Ekonomi Prof. Emil Salim.

Acara tersebut juga turut dihadiri oleh 500 undangan, yang merupakan perwakilan industri halal dan perbankan syariah di Indonesia. Turut hadir mendampingi Menpar adalah Deputi BPIK, Rizky Handayani, dan Asdep Wisata Budaya, Oneng S. Harini dan ketua tim percepatan wisata halal Riyanto Sofyan sebagai Honorable Guest acara.

Dalam sambutannya, Kepala Bappenas menyampaikan “Tujuan dilaksanakannya acara ini adalah agar bagaimana caranya halal industri bisa berkembang lebih pesat di Indonesia, agar menjadi one of the best dan of the biggest in the world, Presiden menyampaikan Quick Win untuk mengatasi defisit neraca dagang adalah melalui sektor Pariwisata, yang saya yakin Halal Tourism memiliki peran penting di dalamnya”

Menko Perekonomian Darmin Nasution dalam keynote speechnya menyampaikan “Perlu ada sinergi antara penyediaan barang dan jasa halal, e-commerce dan supply chain global, termasuk di dalamnya pariwisata halal”.

Menpar Arief Yahya dalam presentasinya menyampaikan performansi Pariwisata, terutama Achievement Pariwisata Halal yang memenangkan berbagai penghargaan di tingkat internasional. Dengan contoh kemenangan tersebut, Menpar AY menitikberatkan kembali bagaimana pengembangan Pariwisata Halal Indonesia harus sesuai dengan benchmark Global yang berlaku.

Data statistik membuktikan bagaimana kunjungan Wisman Muslim ke Indonesia masih kalah dari kunjungan wisman muslim ke negara yang mayoritas non-muslim. Di antaranya adalah Thailand dan Singapura. Ini membuktikan bagaimana referensi wisman memilih destinasi tujuan wisata tidak berdasarkan kesamaan agama di destinasi tersebut. Oleh karena itu, Halal Tourism bertujuan meningkatkan Service Quality dengan mengedepankan aspek Muslim Friendly.

Di Indonesia, peningkatan Service Quality yang Muslim Friendly didorong dengan adanya Indonesia Muslim Travel Index (IMTI). IMTI diselenggarakan untuk memunculkan competitiveness di seluruh provinsi di Indonesia sekaligus sebagai referensi untuk meningkatkan indeks daya saing halal tourism Indonesia di panggung internasional.

Ketua MUI, KH. Ma’ruf Amin menekankan pentingnya Pelayanan Prima dalam pengembangan Ekonomi Islam pada umumnya, termasuk wisata halal di dalamnya. MUI sendiri siap membantu memperbesar pangsa melalui fatwa untuk menggerakkan umat.

Sebagai penutup, Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan dalam Closing Remarks acara. Perry Wardjiyo menyampaikan “Halal Tourism perlu kita kembangkan agar menjadi sumber devisa kita, kita harus mengembangkan competitiveness kita” Bank Indonesia sendiri sudah mengumpulkan berbagai program dari berbagai Kementerian untuk mengintegrasikan program, termasuk di antaranya dengan Kementerian Pariwisata untuk mengembangkan Halal Tourism.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here