Menteri Susi Beri Solusi untuk Nelayan agar Tak Melaut Hadapi Ombak Tinggi

0
213

SIDOARJO, presidentpost.id – Ombak tinggi yang  terjadi di wilayah Laut Selatan disebut Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sebagai hal biasa. Semacam peristiwa rutin yang terjadi setiap tahun di Pantai Selatan.

“Dan ketika musim seperti ini, sebaiknya nelayan tidak melaut,” kata Menteri Susi saat berkunjung ke Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Surabaya II di kompleks Puspa Agro Sidoarjo, Senin (30/7/2018).

Menurut Susi, setiap tahun tentu ada bulan-bulan di mana air tinggi. “Dan saat ini di laut selatan memang ombaknya sangat tinggi sekali. Banyak nelayan yang tidak bisa melaut, dan sebaiknya memang begitu,” tandasnya.

Diperkirakan kondisi itu masih akan berlangsung sampai beberapa bulan ke depan. Namun, Susi memprediksi, pada Oktober nanti nelayan sudah bisa kembali melaut seperti biasa meskipun ombak masih tinggi.

“Oktober nanti kemungkinan ombak di laut selatan masih tinggi. Tapi tidak setinggi sekarang, sehingga nelayan sudah bisa melaut lagi,” lanjutnya.

Kepada nelayan-nelayan itu, pihaknya mengaku bakal memberi bantuan berupa padat karya. Seperti pembuatan perahu untuk tahun depan atau program lain yang disinergikan dengan kementerian lainnya.

Kendati ombak tinggi dan banyak nelayan libur, Susi menyebut volume ekspor ikan mengalami peningkatan yang signifikan dibanding tahun lalu.

Di wilayah BKIPM Surabaya II saja, total ekspor selama 2017 dibanding tahun ini sampai bulan Juli saja sudah ada peningkatan sebanyak 15,24 persen.

Angkanya, sepanjang 2017 ekspor mencapai 7.003 HC. Sedangkan tahun 2018 hingga bulan Juli sudah mencapai 8.070 HC. “Sampai akhir tahun harapannya bisa tembus 14.000 HC, atau naik dua kali lipat dibanding tahun kemarin,” ujar menteri Susi.

Udang Vaname masih mendominasi komoditas ekspor ini. Sama seperti beberapa tahun terakhir. Dan diprediksi juga akan sama di tahun-tahun berikutnya.

Jika ekspor naik, angka impor ikan dan hasil perikanan jauh mengalami penurunan. Kondisi ini dipicu pemberlakuan PP 9/2018 dan Permendag 6/2018.

“Banyak perusahaan yang harus mengurus perizinan dan sebagainya terkait peraturan baru tersebut. Selama ini yang melakukan impor adalah perusahaan yang dokumen administrasinya sudah lengkap. Tapi jumlahnya masih sedikit,” ungkap Rina, Kepala BKIPM Kementrian Kelautan dan Perikanan di kesempatan yang sama.

Kedatangan Menteri Susi di BKIPM Surabaya II merupakan rangkaian kunjungannya ke Jawa Timur. Setelah sejak pagi di Jombang, Susi tiba di Puspa Agro dengan helikopter. (Heros/TPP)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here