Perkuat Ekosistem Ekonomi Digital Pemerintah Bangun Akses Internet Cepat

0
175
kominfo.go.id

JAKARTA, Presidentppost.id  Pemerintah menargetkan membangun akses internet cepat (broadband internet) untuk seluruh ibukota kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, bahkan mencakup daerah kabupaten dan pulau yang terpencil. Kebijakan keberpihakan atau affirmative policy ditujukan untuk menyiapkan ekosistem ekonomi digital.

Demikian dikemukakan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara ketika menyampaikan kondisi tren arus digitalisasi di Tanah Air dan ekosistem ekonomi digital di hadapan alumni serta mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (PERMIAS), di Hotel Novotel Mangga Besar, Jakarta, Sabtu (04/08).

Kebijakan keberpihakan terhadap akses internet untuk masyarakat di Indonesia adalah dengan memberikan konektivitas jaringan. Rudiantara menjelaskan, ada proses untuk menghubungkan tiap kabupaten dan kota agar masyarakat dapat memanfaatkan internet guna menginisiasi bisnis ekonomi digital. “Pemerintah sudah membuat kebijakan keberpihakan (affirmative) yang intinya seluruh masyarakat  memiliki hak akses terhadap internet,” ujar Rudiantara.

Menurut Rudiantara, dengan pemerataan akses internet maka akan mendukung sektor perekonomian nasional dan merealisasikan pertumbuhan perusahaan start up yang tersebar di Indonesia.

Guna mewujudkan itu, Rudiantara mengungkapkan, telah dibuat dan diluncurkannya Program Palapa Ring yaitu Tol Informasi yang ditargetkan tahun 2019 selesai. Sebanyak 514 ibukota kabupaten dan kota di Indonesia akan terkoneksi dengan akses internet cepat  tersebut.

Palapa Ring merupakan proyek infrastruktur telekomunikasi dengan membangun serat optik di seluruh Indonesia sepanjang 36.000 kilometer. Selain jaringan serat optik, akan diluncurkan pula Satelit Palapa Ring untuk mengintegrasikan jaringan backbone yang telah ada (existing network) dengan yang baru dibuat (new network). 

Jaringan backbone Palapa Ring akan menjadi andalan para penyelenggara telekomunikasi serta pengguna jasa telekomunikasi di Indonesia. Saat ini telah terbangun konstruksi fiber optik di Indonesia bagian barat yang sudah beroperasi sejak Maret 2018. Sedangkan di Indonesia bagian tengah akan beroperasi akhir September dan Indonesia bagian timur ditargetkan rampung pada Desember nanti.

Ajak Diaspora Buat Bisnis Digital

Dalam acara itu, Menteri Kominfo mengajak juga diaspora Indonesia di Amerika Serikat untuk membangun industri digital di Tanah Air.  “Tahun 2015-2016, waktu itu saya katakan, jangan kembali (ke Indonesia) sekarang untuk masuk ke dunia digital. Karena saat itu ekosistemnya belum siap, nanti yang ada frustasi,” kenangnya.

Tapi saat ini, Rudiantara menilai waktu yang tepat untuk kembali ke Indonesia dan membuat industri digital, karena ekosistem digital berkembang pesat. “Ada empat start up unicorn Indonesia serta Palapa Ring untuk mendukung internet kecepatan tinggi. Kalau sekarang, saya berani mengatakan, kembalilah ke Indonesia,” ungkapnya.

“Kita melihat tahun 2030 Indonesia akan mencapai puncak bonus Demografi, yaitu kondisi penduduk Indonesia usia produktif menjadi dua kali lebih banyak dibanding yang tidak produktif,” ujar Rudiantara.

Oleh sebab itu, Rudiantara beranggapan, pemerintah saat ini terus memfasilitasi ketersediaan ekosistem ekonomi digital di seluruh pelosok daerah Indonesia. “Berbagai fasilitas tersebut bisa mulai dari pembangunan infrastruktur sampai mempermudah perizinan pengembangan jasa usaha start up,” jelasnya.

Rudiantara menyatakan banyak potensi yang dapat dikembangkan dalam industri digital di Indonesia. Menurutnya, beberapa permasalahan bisa menjadi peluang untuk menghadirkan solusi digitalisasi.

“Setiap permasalahan itu kesempatan, ada proses bisnis di dalamnya. Kalau jadi start up itu mempermudah proses bisnis. Go-Jek mengubah proses bisnis, biasanya ojek mangkal, sekarang kita panggil,” tandasnya.

Dalam pelaksanaan pertemuan dan diskusi antara alumni, calon mahasiswa dan mahasiswa yang tergabung di PERMIAS, Rudiantara menyampaikan apresiasinya sebab dapat menjadi ajang silaturhami dan berdialog untuk kemajuan bangsa ke depan.

“Saya amat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh panitia dan teman-teman yang telah mengumpulkan alumni, kemudian mahasiswa yang sedang belajar dan yang akan belajar di Amerika Serikat,” ucap Rudiantara.

Acara pertemuan dan diskusi PERMIAS merupakan kerja bersama PERMIAS dengan Indonesian Diaspora Network-United (IDN-U). Tema 3 Generasi B3rkolaborasi untuk RI dirancang sebagai ajang temu dan diskusi antara alumni AS, mahasiswa yang sedang berkuliah di AS, dan para pelajar yang akan atau tertarik untuk berkuliah di AS. Pertemuan tiga generasi PERMIAS kali ini merupakan pertemuan yang pertama kali digelar sejak organisasi itu berdiri tahun 1961. (KOMINFO/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here