Sequis Berikan Edukasi Medis bagi Karyawan”Pentingnya Menjaga Kesehatan Organ Intim”

0
183

JAKARTA, presidentpost.id – Rentannya perempuan terserang berbagai penyakit yang berhubungan dengan organ intim menjadi tanda bagi kita untuk memahami kondisi tubuh serta mengetahui risiko penularan penyakit yang bisa terjadi di sekitar kita. Menyadari hal ini, Sequis mengajak para karyawannya untuk lebih memperhatikan kesehatan. Salah satunya adalah dengan menggelar seminar kesehatan gratis bagi lebih dari 100 karyawan perempuan Sequis.

Seminar ini diadakan dengan menggandeng PT Softex Indonesia sebagai produsen pembalut pertama di Indonesia, dalam acara Healthy Talk Show bersama Softex Daun Sirih yang membahas tentang kesehatan organ intim dengan topik “Kebersihan dan Kesehatan Area Kewanitaan” bersama dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan dr. Bram Pradipta, SpOG dan Brand Representative PT Softex Indonesia Melina Scandinovita.

Adapun vagina berbentuk seperi tabung dan bersifat elastis, fungsinya sebagai organ penghubung organ reproduksi luar dan dalam seperti saluran darah haid, jalan lahir, dan sebagai pemeriksaan organ panggul utamanya pada saat hamil dan melahirkan. Vagina normal memiliki tingkat keasaman pH vagina saat normal 3,8-4,5. Kadar ph ini biasanya meningkat saat terjadi menstruasi.

Menurut dr Bram, vagina atau alat reproduksi wanita harus dijaga kebersihannya dari basah, lembab karena vagina rentan terhadap infeksi. “Akibat dekatnya batas antara uretra dengan anus dapat menyebabkan kuman penyakit dapat masuk dengan mudah ke liang vagina seperti jamur, bakteri, parasit ataupun virus,” ujar dr Bram. Hal ini bisa terjadi karena area kewanitaan tidak bersih akibat penggunaan celana dalam yang tidak tepat, tidak diganti, atau basah.

Hal ini juga dibenarkan oleh Health Claim Senior Manager Sequis dr. Yosef Fransiscus. Menurutnya, terjadinya keluhan sakit pada organ intim perempuan biasanya dimulai karena tidak membiasakan menjaga kebersihan daerah intim. Misalnya saja membiarkan pakaian dalam tetap digunakan dalam keadaan basah karena keringat atau keputihan atau tidak membersihkan sampai kering setelah buang air kecil.

“Basah dan lembab pada daerah selangkangan, kelamin dan sekitar pantat dalam jangka waktu yang lama dapat mengembangkan bakteri sehingga menyebabkan bau tak sedap atau infeksi,” ujarnya. Untuk itu dr Yosef menyarankan agar perempuan rajin menjaga daerah vagina agar tetap bersih dan kering.

Adapun keluhan umum di daerah vagina yang sering terjadi misalnya rasa gatal, nyeri saat buang air kecil, bau yang tidak sedap, adanya darah saat bersenggama serta adanya cairan putih atau dikenal dengan keputihan yang keluar dari vagina. Menurut dr Bram, jika terjadi keputihan sebaiknya jangan diabaikan karena keputihan yang terjadi secara terus menerus akan mengalami perubahan seperti jumlahnya bertambah banyak, konsistensinya berubah, warna berubah lebih keruh, rasa gatal yang semakin sering dan timbul bau yang tidak sedap.

Cairan vagina diproduksi oleh tuba falopi berisi sel telur dan cairan secret, tanda memasuki masa subur. Namun, yang menjadi permasalahan adalah cairan ini rentan terjangkit virus, kuman, dan bakteri yang berasal dari luar tubuh yang dikenal dengan keputihan. Keputihan terbagi menjadi dua, yaitu keputihan fisiologis dan keputihan patologis. Pada umumnya keputihan fisiologis terjadi menjelang atau setelah menstruasi dan dapat juga muncul pada masa subur setiap bulan dan tidak dalam jangka waktu lama. Sedangkan keputihan patalogis sering terjadi karena infeksi atau bakteri yang berada di sekitar atau di dalam vagina.

Ia menyarankan agar sebelum terjadi keluhan pada daerah vagina, perempuan sebaiknya membiasakan diri secara regular membiasakan menjaga kebersihan daerah organ intim seperti mengeringkan vagina setelah buang air kecil dengan tissue. Jika menggunakan cairan pembersih vagina maka gunakan yang mengandung bahan alami dan dipergunakan bersama air hangat dan dibasuh pada daerah permukaan luar vagina terutama sebelum tidur. Bila menggunakan pantyliner atau pembalut maka perlu menggantinya setelah dua-tiga jam sekali terutama jika sudah basah harus segera diganti. Pilihlah pantyliner dan pembalut yang cocok dengan kulit agar tidak terjadi iritasi, memiliki daya serap yang baik karena jika ada cairan sisa yang ada infeksi menempel pada pantyliner atau pembalut dapat mengenai organ intim kembali. Demikian juga jika akan melakukan senggama sebaiknya membasuh vagina sebelum dan sesudah bersenggama.

Untuk membersihkan area vagina, dr bram juga menyarankan tidak menggunakan douche. “Proses melakukan vaginal douching sering disarankan dengan anggapan dapat membersihkan organ kewanitaan. Douche sendiri berasal dari bahasa Prancis yang berarti “to wash” namun praktek ini ternyata tidak memberikan efek yang menguntungkan”, ujar dr Bram. Berdasarkan informasi dari WebMD, penggunaan douche pada vagina dapat meningkatkan risiko terjadinya bacterial vaginosis dan pelvic inflammatory disease*. Hal ini juga disarankan oleh American College Obstetric dan Gynecology (ACOG) yaitu agar tidak melakukan praktik douching karena dikhawatirkan memperparah terjadinya infeksi.**

Penggunaan pakaian juga ternyata dapat mempengaruhi kesehatan organ intim perempuan misalnya saja jika sering menggunakan celana ketat dan bahan celana yang tidak menyerap keringat akan membuat area selangkang dan area intim menjadi lengket, lembab dan menjadi area yang subur bagi jamur. Dr Bram menyarankan juga agar bagi perempuan yang menyukai kegiatan luar ruang seperti olah raga sebaiknya segera berganti pakaian dalam pasca olah raga.

“Beberapa pusat kebugaran terdapat di pusat perbelanjaan sehingga terkadang setelah berolahraga hanya berganti pakaian dan melanjutkan aktivitas lainnya, padahal hal ini tidak baik jika dibiasakan karena celana olah raga atau pakaian dalam yang basah karena keringat akan mengundang bakteri dan jamur,” imbuh dr Bram.

Keluhan Medis Pada Daerah Organ Intim

Terjadinya keluhan pada organ intim akibat adanya jamur, bakteri maupun virus bisa juga terjadi karena faktor luar seperti tindakan seks bebas, penggunaan antibiotik yang tidak rasional, perubahan hormonal, merokok, mengonsumsi rokok, dalam keadaan stres, obesitas maupun karena terkena penyakit tertentu seperti HIV dan diabetes. “Keluhan yang rentan menyerang organ intim seperti kanker pada sistem reproduksi, keputihan, siklus menstruasi yang tidak teratur, radang panggul, radang pada vagina, infertilitas dan myoma (tumor jinak),” ujar dr Bram.

Kanker pada sistem reproduksi yaitu kanker rahim maupun kanker serviks merupakan penyakit yang banyak menyebabkan kematian pada kaum perempuan. “Penyakit ini disebabkan oleh Human Papilolloma Virus (HPV) yang dapat menyebar dan berpindah dengan mudah, walau hanya lewat sentuhan kulit, bertukar alat pribadi seperti handuk atau melakukan hubungan seks yang tidak aman dan bertukar pasangan. Perempuan perlu memiliki pengetahuan mengenai sistem reproduksi sehingga jika terjadi keluhan dapat ditangani sejak dini,” tambah dr Yosef.

Gangguan pada siklus menstruasi terbagi menjadi dua yaitu Anemore Primer, ini adalah menstruasi yang belum terjadi walaupun sudah mencapai usia untuk mengalami siklus haid. Sedangkan anemore sekunder adalah masa yang seharusnya sudah mengalami haid namun terhenti dalam jangka 3-6 bulan. Penyakit radang panggul terjadi karena bakteri masuk hingga ke rongga perut. Jika terjadi radang panggul maka saat panggul bereaksi, sering sekali menyebabkan rasa sakit pada perut. Sedangkan Peradangan vagina disebabkan oleh infeksi jamur candida yang terjadi secara alami di dalam vagina namun jamur ini dapat berkembang lebih cepat dari biasanya sehingga dapat menyebabkan gatal-gatal pada vulva dan vagina. Infertilitas wanita adalah kesulitan untuk hamil karena gangguan ovulasi seperti penyimpangan dalam produksi hormon atau terjadi kerusakan pada leher Rahim. Dapat juga disebabkan karena terdapat penyakit sistem reproduksi lainnya. Sedangkan Myoma atau tumor jinak, belum diketahui penyebabnya dan biasanya sering terjadi pada perempuan di atas usia 35 tahun. Jika terdapat tingkat yang berlebihan dari estrogen dan hormon pertumbuhan dapat mempengaruhi pembentukan tumor.

Untuk itu, dr Yosef menyarankan agar melakukan tindakan preventif seperti menjaga kebersihan organ intim, serta berkonsultasi dengan dokter jika terjadi keluhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here