Lulusan Stikes Jateng Ditantang Implementasikan Ilmunya

0
227
foto: jatengprov.go.id

SEMARANG, presidentpost.id -Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) di Jawa Tengah ditantang untuk mengimplementasikan ilmu yang mereka peroleh sebaik-baiknya demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Termasuk, menurunkan angka kematian ibu melahirkan (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).

Tantangan itu disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Dr Ir Sri Puryono KS MP kepada wisudawan-wisudawati Ahli Madya Keperawatan, Kebidanan, dan Profesi Ners Stikes Telogorejo di Patra Jasa Hotel, Rabu (19/9).

Menurutnya, tantangan tersebut selaras dengan prioritas pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dari sisi pendidikan dan kesehatan. Bagaimana pun, SDM yang berkualitas merupakan modal utama untuk dapat memenangkan kompetisi global.

“Apa yang menjadi program Stikes Telogorejo dapat disinergikan dengan program pembangunan yang disusun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kita ingin derajat kesehatan masyarakat semakin baik, AKI dan AKB semakin turun, dan pendidikan juga semakin maju. Dengan SDM yang berkualitas, kita akan mampu bersaing, bahkan unggul dari bangsa lain,” terang Mantan Ketua Forum Sekretaris Daerah Seluruh Indonesia (Forsesdasi) itu.

Sri Puryono juga berpesan agar perawat dan bidan intens mengedukasi masyarakat tentang arti penting perilaku hidup bersih dan sehat. Sehingga, masyarakat dapat mencegah terjangkitnya penyakit menular dan penyakit tidak menular. Tak hanya itu, pihaknya meminta bidan serius mendukung pelaksanaan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng dengan melakukan pendampingan terhadap ibu hamil.

“Dengan program ini, alhamdulillah AKI dan AKB di Jawa Tengah dapat diturunkan. Pada tahun 2015, AKI di Jateng sebanyak 111,16 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 10 per 1.000 kelahiran hidup. Tahun 2016 AKI menurun menjadi 109,65 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKB-nya turun menjadi 9,99 per 1.000 kelahiran hidup. Terakhir pada tahun 2017 lalu, AKI turun menjadi 88,58 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 8,93 per 1.000 kelahiran hidup,” bebernya.

Sekda juga mengingatkan perawat dan bidan memberikan pelayanan prima kepada pasien dengan senantiasa bersikap ramah. Menurutnya, pelayanan yang ramah adalah bagian dari terapi pengobatan karena pasien membutuhkan dukungan moral agar dapat segera sembuh.

“Beri pelayanan prima, jaga attitude, bersikap ramah dan selalu tersenyum kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan Saudara. Sikap tersebut menjadi bagian dari terapi pengobatan bagi pasien. Pelayanan kepada pasien kalau tidak dilandasi cinta kasih saya rasa susah untuk terwujud Indonesia sehat,” ujarnya.

Senada dengan Sri Puryono, Ketua Stikes Telogorejo dr Murti Wandrati MKes mengingatkan wisudawan untuk menjadi tenaga kesehatan yang berkompeten. Mereka pun dituntut memegang teguh empat prinsip dasar moral dalam melaksanakan profesinya.

“Saudara dihadapkan pada tuntutan mutu pelayanan profesi yang tinggi. Untuk itu, ingatlah selalu empat prinsip dasar moral dalam menjalankan profesi yaitu selalu berbuat baik. Jangan merugikan orang lain, selalu memperhatikan dan menghormati hak pasien, dan tidak boleh membeda-bedakan. Jadilah tenaga kesehatan berkompeten dan berkarakter ‘i-care‘,” tegasnya. (JATENGPROV/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here