Rini ke BUMN: Kita Harus Ekspor

0
139
finance.detik.com

BONTANG, presidentpost.id РNeraca perdagangan Indonesia di Agustus 2018 kembali defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan Indonesia di Agustus mencapai US$ 1,02 miliar.

Defisit terjadi karena impor Indonesia bulan Agustus 2018 tercatat US$ 16,8 miliar. Sedangkan ekspor Indonesia bulan Agustus 2018 tercatat US$ 15,82 miliar.

Defisitnya neraca perdagangan RI dipandang menjadi penyebab anjloknya nilai tukar rupiah. Sebab dengan banyaknya impor, maka menandakan permintaan dolar AS juga besar.

Pemerintah pun tengah berjibaku untuk memperbaikinya. Selain membuat kebijakan, pemerintah juga mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar ikut berkontribusi.

Menteri BUMN Rini Soemarno menginstruksikan agar para BUMN yang memiliki produk yang bisa pasarkan ke luar negeri maka segera melakukan ekspor. Namun dengan catatan agar kebutuhan dalam negeri terpenuhi terlebih dahulu.

“Apapun kalau kita memang dibutuhkan harus memproduksi produk yang dibutuhkan dalam negeri. Kalau bisa ekspor ya kita harus ekspor,” tuturnya di Bontang, Kaltim.

Selain didorong untuk melakukan ekspor, para BUMN juga berorientasi impor juga didorong agar mencari produk-produk substitusi impor. Selain program hilirisasi produk bahan mentah juga terus dilakukan.

“Kita masih banyak impor aluminium, padahal untuk bahan aluminium kita ada di Indonesia. Untuk itu perusahaan pertambangan kita konsentrasi untuk proses bahan baku aluminium menjadi aluminium sehingga tidak perlu impor,” tambahnya.

Rini juga mengapresiasi PT Pupuk Indonesia (Persero) yang hari ini kembali melakukan ekspor melalui anak usahanya PT Pupuk Kalimantan Timur. Kali ini Pupuk Kaltim mengekspor 21.600 ton pupuk urea ke Filipina dan 3.500 ton amonia ke Vietnam.

Adapun nilainya untuk ekspor urea mencapai US$ 6,3 juta atau setara Rp 93,24 miliar (kurs Rp 14.800) dan amonia sebesar US$ 1,2 juta atau setara Rp 17,76 miliar. Jika ditotal maka mencapai Rp 111 miliar.

“Ini karena stok untuk nasionalnya sudah lebih dari 100%. Sehingga kita merasa untuk ekspor tidak ada masalah dan memang harganya juga bagus. Sehingga mendorong¬†performance,” tambahnya.

PT Pupuk Indonesia juga menjamin ketersediaan stok pupuk dalam negeri, khususnya untuk kebutuhan musim tanam di periode Oktober 2018 hingga Maret 2019.

Total stok pupuk hingga 12 September 2018 secara nasional di Lini III & IV, atau di gudang kabupaten dan kios mencapai 1.475.323 ton. Jumlah tersebut belum termasuk dengan stok yang terdapat di gudang pabrik dan provinsi, serta mencapai dua kali lipat dari ketentuan stok yang ditetapkan pemerintah.

Adapun rincian stok nasional Lini III & IV terdiri dari 519.804 ton urea, 466.608 ton NPK, 136.580 ton organik, 182.264 ton SP-36 dan 170.067 ton ZA. Sedangkan realisasi penyaluran hingga 7 September 2018 adalah sebesar 2.623.482 urea, 1.696.364 NPK, 466.529 organik, 592.773 SP-36 dan 659.369 ZA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here