Tenun Flores Mendunia pada Annual Meetings 2018

0
163
kemenkeu.go.id

BALI, Presidentpost.id – Dahulu warna kain tenun hanya merah, hijau, biru, dan kuning. Tapi di tangan Ibu Rosvita, kain tradisional ini menjadi terasa lebih kekinian dengan warna-warna yang beragam. Ibu Rosvita (34 tahun), penenun asal desa Watublapi, Flores, Nusa Tenggara Timur telah belajar menenun sejak kecil. Ia merasa bangga dapat berpartisipasi pada acara IMF-WBG Annual Meetings di Nusa Dua, Bali 2018 untuk memamerkan hasil kerajinan daerah asalnya kepada dunia.

Bersama pengrajin dari beberapa daerah di Indonesia, mereka menampilkan live show proses pembuatan karya kerajinan seperti tenun, batik, dan topeng yang dikemas dalam Paviliun Indonesia. Paviliun Indonesia adalah kegiatan yang memamerkan kebudayaan Indonesia kepada seluruh peserta Annual Meetings 2018 mulai dari pameran seni & kerajinan, pameran infrastruktur, dan stan pariwisata Indonesia. Kegiatan ini merupakan salah satu dari program Pemerintah Indonesia untuk

Rosvita menceritakan, tenun yang telah diajarkan turun temurun oleh leluhurnya, Ia kembangkan dengan mengolah warna-warna kain tenun yang dihasilkan. Ia berkata, saat ini anak muda tertarik dengan warna-warna cerah dan ia pun berusaha mengikuti selera pasar itu.

“Yang kami lakukan tidak hanya untuk melestarikan budaya tetapi juga untuk meningkatkan perekonomian keluarga,” ucapnya pada Senin (08/10).

Menurutnya, laki-laki di desanya melakukan kegiatan bertani untuk mencari nafkah dan para perempuan bertenun untuk menambah pendapatan keluarga. Sehingga apabila panen gagal, maka mereka masih memiliki penghasilan dari penjualan kain tenun.

Bersama 25 orang pengrajin, setiap bulan mereka memiliki target untuk menghasilkan kain tenun sebanyak 100 lembar ukuran 3m x 80 cm dengan warna dan motif yang berbeda. Ia selalu berusaha mengembangkan motif serta warna kain tenun. Hasilnya, kelompok yang diketuai oleh Rosvita mampu menarik investor dari Jakarta. Semua kain tenun diolah menjadi berbagai produk seperti dompet, sabuk, tas, dompet paspor, dan gelang.

Tidak berhenti disana usaha Rosvita. Ia bersama kelompoknya juga membuka usaha homestay untuk turis domestik ataupun internasional. Di homestay yang diberi nama Orinila, para turis bisa mengikuti workshop membuat tenun.

Jadi, katanya, para pengrajin juga bisa menjadi pengajar dan menurunkan ilmu membuat tenun tidak hanya kepada keluarga tetapi juga ke masyarakat umum. Harapannya, kain tenun dapat makin dikenal lebih luas lagi.

“Saya berharap dengan mengikuti pameran ini, produk saya dikenal lebih luas dan bisa menjaring kerjasama serta meningkatkan taraf hidup,” jelasnya. (KEMENLU/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here