Varian Lupins, Siap Rambah Pasar Internasional, Lahir Dari Tangan Lecture Preneur Dr. Etty Susilowati, SE. MM

0
663
Ki-Ka : Tenaga Ahli Bidang Strategi Promosi dan Pemasaran Kementerian Perdagangan FTA, Aryoko Mochtar, Owner Lupin Dr. Etty Susilowati, SE. MM

JAKARTA, presidentpost.id – Lecture Preneur yang masih aktif di beberapa Perguruan Tinggi di Jakarta, Dr. Etty Susilowati, SE. MM, melaunching produknya untuk merambah pasar internasional, berupa produk olahan Lupin, yang dikemas dalam berbagai varians.

Mengusung produk Lupin yang lebih dikenal sebagai  commodity substitute product of soybeans (kedelai) yang memiliki keistimewaan yakni High Fiber, High Protein, Gultein Free, No GMO (Genetic Modified Organic) dan Anti Tripsine, produk besutan pengajar President University International Classical ini, diperkenalkan di pameran bertarap internasional yakni di Trade Expo Indonesia (TEI)  tanggal 24 sd 28 Oktober 2018 di Indonesia Convention Exhibition (ICE)  Serpong Tangerang.

Dosen Homebase MM Universitas Budi Luhur ini mengatakan, berbagai produk dari kacang Lupin dipilih karena Indonesia sangat ketergantungan dengan produk kacang kedelai. Kacang Lupin berbeda dengan kacang kedelai.

“Saat ini membudayakan kacang Lupin di Malang dalam jumlah yang terbatas. Kami berharap dengan bantuan pemerintah, kami akan lebih membesarkan kacang Lupin di Indonesia, agar ketergantungan akan produk import akan berkurang,” ujarnya kepada awak media, (28/10).

Varians produk Lupin yang  di luncurkan dengan mengusung branding LUPS, terdiri dari Lupin Chips dengan produk Lupin Milk Powder, Green Bean Milk Powder dengan produknya Red Rick Milk Powder, Cookies Lupin (Cheese Stick Lupin), Chocolate Cookie Lupin (Chastengels Lupin), Pine apples Cookie Lupin (Youghurt Cookies Lupin) dan Almond Cookies Lupin (Lupin Crackers)

“Kami membuat berbagai produk dari kacang Lupin, karena Indonesia sangat ketergantungan dengan produk kacang kedelai. Kacang Lupin berbeda dengan kacang kedelai, di mana kacang Lupin lebih banyak proteinnya, lebih banyak seratnya dan tidak mengandung MJO dan Glutein dan anti treapsin,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama Tenaga Ahli Bidang Strategi Promosi dan Pemasaran Kementerian Perdagangan FTA, Aryoko Mochtar, mengatakan dengan adanya perjanjian perdagangan, pemerintah berusaha membantu para pelaku usaha untuk mengurangi hambatan tarif dan non tarif.

“Makanya salah satu hambatan, kami membantu pelaku usaha dengan produk usahanya ini untuk mengembangkan sayap ke luar negeri. Potensi pasar produk ini (Lupin) cukup besar. Karena sebenarnya ini adalah produk substitusi dari kacang kedelai. Saat ini kacang kedelai kita import dari Negara-negara pasar tradisonal seperti salah satunya dari Negara Amerika dan Eropa,” katanya.

Dia, menambahkan dengan adanya inovasi kacang Lupin dari Australia ini, apalagi kita sudah ada perjanjian dagang dengan Australia, otomatis pasar khususnya untuk pasar Asia seperti Jepang, Korea terbuka lebar dengan produk yang ada nilai tambahnya.

“Seperti kripik tempe, itu sama dengan crackersnya pengganti kentang karena lebih sehat dan lebih enak,” ungkapnya.

Malang Jadi Kota Budidaya Lupin

Dosen S2 Universitas Bina Nusantara ini, mengatakan saat ini dirinya sedang membudidayakan kacang Lupin di Malang dalam jumlah yang terbatas. Kami berharap dengan bantuan pemerintah kita akan lebih membesarkan kacang Lupin di Indonesia, agar ketergantungan akan produk import akan berkurang.

“Lupin merupakan hasil riset, bersama dengan Free Trade Agreement (FTA) mengembangkan produk olahan dari kacang Lupin menjadi produk eksport. Tentunya tanpa pemerintah kita tidak akan besar,” ungkapnya.

“Bahan baku kita ambil dari Australia, diawal kita import. Saya riset ini selama 5 tahun, Ketika kita lihat marketnya berkembang maka kita lakukan budidaya. Saya berharap akan banyak partner kita untuk membuidayakan kacang Lupin di Indonesia. Di Malang sekitar 10 hektar, namun dengan system tumpang siring,” ungkapnya.

Produk Masuk PIRT BPOM

Produk Lupin telah masuk dalam daftar PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), di mana sekitar belasan produk sudah proses MUI dan ISO, melihat target yang akan dicapai yakni mengarah ke arah pasar global. Di mana saat ini menurut pengakuan sang owner, produk telah masuk registrasi BPOM.

“Insya Allah mahasiswa kami yang ada di UGM pulang, karena akan ada registrasi BPOM (dua hari ini) untuk mengunjungi gudang dan rumah produksi kami. Dengan adanya izin BPOM, harapannya permintaan-permintaan pasar luar negeri akan semakin tertangani,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here