Schneider Electric di Batam Menjadi Pabrik Percontohan Pertama Kementerian Perindustrian

0
91
Pressrelease

BATAM, presidentpost.id – Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) bersama dengan Schneider Electric, perusahaan global terkemuka dalam pengelolaan energi, otomasi dan proteksi listrik, hari ini menandatangani Nota Kesepahaman terkait pengembangan dan penerapan Industri 4.0 dalam mencapai Indonesia 4.0, yang bertujuan untuk mengembangkan, meningkatkan keterampilan dan optimalisasi penggunaan hasil evolusi industri ke-empat oleh pelaku industri di Indonesia.

Penandatanganan Nota Kesepahaman dilakukan oleh Ngakan Timur Antara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, dan Gabriel De Tissot, Vice President PT Schneider Electric Manufacturing Batam; disaksikan oleh Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian Republik Indonesia dan Jim Tobojka, Senior Vice President Global Supply Chain Schneider Electric untuk Asia Timur dan Jepang.

Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian Republik Indonesia menyampaikan bahwa “Kolaborasi dengan berbagai mitra yang berkompeten di bidang transformasi digital seperti Schneider Electric merupakan bagian dari penguatan kebijakan Kemenperin dalam mempercepat pengimplementasian revolusi industri 4.0 di industri manufaktur yang memiliki peranan sangat penting dalam pencapaian visi Indonesia untuk mejadi 10 ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030. Dengan adanya lighthouse berupa Smart Factory di Batam akan memberikan gambaran lebih riil kepada para pelaku industri di Indonesia mengenai proses perjalanan transformasi digital industri dan manfaatnya bagi bisnis.”

Percepatan implementasi revolusi industri ke-empat oleh Kemenperin merupakan bagian dari inisiatif Making Indonesia 4.0, yang diluncurkan oleh Bapak Presiden RI, Joko Widodo, pada tanggal 4 April 2018 lalu dengan menetapkan 5 (lima) sektor industri prioritas yaitu:  Industri Makanan dan Minuman, Industri Otomotif; Industri Elektronik, Industri Kimia dan Industri Tekstil dan Produk Tekstil. Secara umum, Industri 4.0 ditandai dengan adanya konektivitas, interaksi dan semakin konvergensinya batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Setiap negara saling berebut untuk meningkatkan daya saingnya di kancah industri global. Implementasi Industri 4.0 di manufaktur sangat terkait dengan penyediaan infrastruktur dan teknologi informasi dan komunikasi antara lain: Internet of Things, Big Data, Cloud Computing, Artificial Intellegence, Mobility, Virtual dan Augmented Reality, sistem sensor dan otomasi. Penerapan teknologi industri 4.0 tersebut dapat diimplementasikan di manufaktur dalam bentuk Smart Factory.

Ngakan Timur Antara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian menyampaikan bahwa “Selama tiga tahun masa Nota Kesepahaman, Schneider Electric akan menjadi mitra kerja Kemenperin dalam melaksanakan pelatihan dan pendampingan bagi para pelaku industri, serta menjadi pabrik percontohan bagi pelaku industri di Indonesia yang ingin belajar dan menyaksikan secara langsung penerapan otomasi pabrik Schneider Electric di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Tidak hanya itu Program pelatihan dan pendampingan “Manajer Transformasi Industri 4.0” akan melatih para peserta selama satu minggu terkait berbagai aspek dalam transformasi digital yang nantinya para peserta akan menerima sertifikasi kompetensi / kelayakan dalam penerapan industri 4.0.”

Xavier Denoly, Country President Schneider Electric Indonesia mengatakan “Revolusi Industri 4.0 diperkirakan akan berkontribusi $3,7 triliun terhadap perekonomian global karena meningkatnya produktifitas. Teknologi digital dan globalisasi telah secara signifikan mengubah model bisnis di semua sektor, meningkatkan laju perubahan dalam dunia kerja dan menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru serta keterampilan yang lebih tinggi dari yang dibutuhkan sebelumnya. Kerjasama dengan Kemenperin dan Smart Factory kami di Batam dalam pelatihan dan pendampingan akan membuka peluang terbesar bagi para pelaku industri untuk berdiskusi dan membangun kompetensi dalam penerapan digitalisasi, otomasi dan proses transformasi digital di manufaktur dengan merujuk pada praktek terbaik yang pernah ada.” Lebih lanjut Xavier mengatakan, “Sebelumnya, Schneider Electric Indonesia juga telah bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia membangun pusat pelatihan dan pengembangan ahli ketenagalistrikan Indonesia, pengembangan kurikulum dan bantuan peralatan laboratorium untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap  dalam menghadapi era digitalisasi yang menargetkan 10.800 siswa SMK siap kerja hingga 2023.”

Smart Factory Schneider Electric di Batam adalah bagian dari transformasi digital Schneider Electric secara Global. Sampai hari ini, Schneider Electric telah memiliki enam smart factory di seluruh dunia termasuk di Batam. Smart Factory Schneider Electric lainnya terletak di China, Prancis, Filipina, Amerika Utara dan India. Aplikasi yang digunakan smart factory Schneider Electric mencakup connected product, edge control dan apps, analytics & services untuk pengelolaan energi: Augmented Operator Advisor, Power Monitoring Expert, IoT monitoring via Machine Advisor & Aveva Insight, Lean Digitalization System for shop floor management, Virtual Reality for industrialization, Augmented Reality for operator training, Collaborative Robots, Automatic Guided Vehicles, Remote assistance for maintenance & Machine learning.

Semua solusi di atas terhubung kepada platform EcoStruxure™, yaitu platform IoT (Internet of Things) milik Schneider Electric yang terbuka, mudah dioperasikan, dan kompatibel. EcoStruxure™ memberikan nilai lebih dalam hal keamanan, keandalan, efisiensi, daya tahan dan konektivitas. EcoStruxure™ dibangun berdasarkan kemajuan dalam IoT, mobilitas, deteksi, cloud, analitik, dan keamanan cyber untuk menghadirkan inovasi di setiap tingkat, dari produk yang terhubung ke analisis dan layanan aplikasi, melalui kontrol periferal. EcoStruxure™ hadir di lebih dari 480.000 instalasi, didukung oleh lebih dari 20.000 sistem integrator, dan menghubungkan lebih dari 1,5 juta aset.

Di Batam, Schneider Electric mempekerjakan lebih dari 2.900 karyawan di tiga smart factory yang memproduksi beragam produk (contractor, relay, variable speed drives, sensors, circuit breakers, electronic boards) yang didistribusikan tidak hanya untuk pasar dalam negeri, namun juga Eropa, Amerika Utara, China, India dan wilayah Asia Pasifik. Ketiga pabrik ini telah tersertifikasi dengan standard internasional ISO 9001, ISO 14001, dan OHSAS 18001.

Selain menerapkan solusi EcoStruxure™, Schneider Elctric Manufacturing Batam juga melibatkan siswa SMK dan mahasiswa Politeknik Batam untuk ikut terjun langsung dalam mengembangkan aplikasi Smart Factory di Batam melalui program Digital Internship sejak tahun 2017. Beberapa solusi digital yang dirancang oleh tim digitalisasi di Batam telah berhasil dikembangkan dan diuji di pabrik lokal dan kemudian diimplentasikan dalam skala yang lebih besar di pabrik multinasional di Prancis: Smart Vist, Process control plan execution system, Outgoing Quality Control Insight App, Manufacturing control tower dan beberapa solusi digital lainnya yang sedang dalam pengembangan. Keterlibatan keahlian dan staf lokal merupakan salah satu kunci kesuksesan transformasi digital di pabrik Schneider Electric Manufacturing Batam.

Gabriel De Tissot, Vice President PT Schneider Electric Manufacturing Batam menyampaikan “Kami sangat bangga dapat bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian Indonesia untuk menjadi pabrik percontohan Industri 4.0 pertama di Indonesia dan diperhitungkan sebagai salah satu perusahaan terkemuka di wilayah ini. Schneider Electric secara Global telah banyak berbagi pengetahuan dan praktek terbaik akan penerapan teknologi smart manufacturing dengan industri lain melalui EcoStruxure™ yang kami tawarkan. World Economic Forum pada September 2018 yang lalu memberikan pengakuan kepada dua pabrik Schneider Electric di Perancis dan China sebagai proyek percontohan revolusi industri 4.0. Pabrik Le Vaudreuil di Perancis menjadi satu dari sembilan proyek percontohan industri 4.0 terbesar di dunia. Sementara pabrik Wuhan di China diakui oleh para ahli sebagai pionir dalam pengimplementasian teknologi smart manufacturing di China.”

“Transformasi digital yang kami hadirkan di seluruh pabrik kami di Batam menggunakan solusi EcoStruxure™ dan aplikasi Industri 4.0 lainnya yang memungkinkan pemantauan kinerja operasi kami di setiap bagiannya. Operator, teknisi, insinyur, semuanya dapat memantau kinerja mesin, melakukan tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadinya gangguan, pemenuhan terhadap standar pengendalian kualitas proses, process drifts, pengelolaan energi dan berbagai aktivitas lain yang dapat ditemukan di semua manufacturing shop floor. Manajer pabrik dapat membuat keputusan yang tepat dengan menggunakan Manufacturing Control Tower dashboards dengan data real-time. Semua karyawan di pabrik kami mendapatkan manfaat dari solusi Industri 4.0 dimana return on investment (ROI) teknologi ini bervariasi dari 6 bulan sampai 2 tahun. Salah satu contoh nyata ROI penggunaan EcoStruxure™ pada salah satu lini produksi elektromekanikal kami adalah kurang dari 6 bulan, berkat berkurangnya material yang terbuang sebanyak 46% dan penurunan waktu perawatan hingga 17% dengan waktu implementasi kurang dari 1 bulan,” tutup Gabriel. (PRS/TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here