Kerjasama Strategis BPOM Gandeng Kemenristekdikti

0
56
Ki-Ka : Kepala BPOM Penny K Lukito, Direktur Jendral Penguatan Riset dan Pengembangan. Kemenristekdikti, Dr. M. Dimyati, saat melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman Percepatan Penelitian dan Pengamanan Obat dan Makanan di Indonesia.

JAKARTA, presidentpost.id – Dalam mengawal pengembangan produk obat, obat tradisional, kosmetik, suplemen kesehatan dan makanan Indonesia, melalui kerjasama strategis, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggandeng Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dengan melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Penelitian dan Pengembangan Obat dan Makanan di Indonesia.

Dalam sambutannya Kepala BPOM RI Penny K Lukito, mengatakan penandatanganan nota kesepahaman diharapkan menjadi pondasi dalam penelitian obat dan makanan, juga diharapkan kerjasama ini membangun kebijakan yang sama, yang akan mengajar keberpihakan kepada peneliti dan industri obat dan makanan.

“Dengan kerjasama ini dapat kita kembangkan menjadi produk yang dapat dikomersialisasi baik untuk akses pasar dalam negeri dan luar negeri,” katanya, di Hotel Aryana MidTown, Jakarta (19/11).

Lebih jauh Penny, memaparkan kekayaan Indonesia sangat potensial dan ini satu sistem yang bisa dikembangkan, menaksir obat dan herbal, serta farmasi termasuk bio teknologi dan produk alam lainnya. Industri farmasi, komsetik dan makanan menjadi industri andalan dalam rencana induk industri nasional.

“Revolusi industri menuntut untuk bergerak dengan cepat dan memperluas pengembangan produk dengan akses ke masyarakat yang lebih cepat dan ini membutuhkan intervensi lintas sektor,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Jendral Penguatan Riset dan Pengembangan. Kemenristekdikti, Dr. M. Dimyati, menjelaskan Instruksi presiden membuat seluruh kompinen melakukan percepatan demi mendorong bangsa Indonesia termasuk universitas untuk tampil di dunia menjadi kekuatan yang mendukung salah satu kebutuhan masyarakat dunia.

“Kita tidak harus menari di atas penderitaan orang lain. Prinsip ini menjadi alat untuk melakukan penandatangan nota kesepahaman pada saat ini. Menurut rencana induk riset Nasional kita ditugaskan presiden melakukan fokus penelitian, salah satunya kesehatan yang subsatnasinya kita sepakati,” jelasnya.

Dia, menambahkan hal tersebut menjadi cara kunci untuk melakukan percepatan sehingga nuansa keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat Indonesia dalam mendukung dirinya untuk mengolah apa yang dimiliki betul-betul bisa terwujud.

“Untuk itu Kemenristekdikti dengan 250 ribuan lebih dosen dan penerimanya terus melakukan perbaikan lingkungan melalui riset, agar para peneliti menunjukan potensinya terutama mendorong kekayaan yang dimiliki,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here