South of East Asian Thalassemia Forum, Diharapkan Ada Pengalaman Mengeliminer Thalassemia Untuk Indonesia

0
76
Diskusi terkait penanganan Thalassemia di Kementerian Kesehatan RI, yang dihadiri oleh beberapa negara sahabat.

Jakarta, presidentpost.id – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengakomodasi pertemuan tingkat Negara Asia Timur dan Selatan, untuk saling berbagi pengalaman terkait mengatasi permasalahan Thalassemia, melalui South of East Asian Thalassemia Forum (seathaf), di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.

Ditemui di sela-sela acara, Staf Khusus Menteri Kesehatan RI, Dr. Akmal Taher, mengatakan permasalahan Thalassemia merupakan permasalahan yang cukup besar. Jika dilihat dari nilai ekonomi, permasalahan Thalassemia angka untuk penanganan yang harus ditanggung oleh negara amat besar.

“Sekali penderita Thalassemia lahir, kalau dulu saat layanannya tidak bagus, biasanya umur 10 hingga 12 tahun penderita ini bisa meninggal dunia. Sekarang ini bisa jadi dewasa, tetapi dewasa harus menjalani transfusi terus menerus, komplikasi yang banyak, harus diobati dan bebannya banyak. Tetapi di satu pihak, itu memang tujuan kita memperpanjang kehidupan,” ujarnya, di Gedung Prof. Sujudi, Kemenkes, (28/11).

Lebih jauh, Dr. Akmal, mengatakan beban yang berat ini sekarang sudah mencapai peringkat ke lima dari anggaran BPJS yang dikeluarkan, setelah jantung, stroke, diabetes dan kanker.

“Rata-rata kenaikannya lima persen (kasus Thalassemia), karena faktornya genetik. Kalau kita tidak menghambat, maka kasus Thalassemia akan semakin besar nantinya. Sejak tahun 2014-2017 anggaran untuk Thalassemia mencapai 1,8 triliun dan itu hanya untuk perawatan. Biaya BPJS itu biaya untuk pengobatan jadi tidak bisa menurunkan (angka penderita Thalassemia). Jadi harus ada usaha khusus prevention,” katanya.

Dia, menambahkan dari awal dalam penanggulangan thalassemia harusnya melakukan dengan melakukan screening. Melalui pertemuan ini, nantinya diharapkan akan ada banyak recomended yang dapat dijadikan contoh untuk penanggulangan Thalassemia di Indonesia.

“Dalam pertemuan ini akan ada rekomendasi. Penyakit banyak, uangnya terbatas untuk harus dipilih, bagaimana cara yang tepat dalam pengobatan. Strateginya harus lengkap. Kita ingin dapat pengalaman baru dari beberapa negara,” katanya.

Biaya Yang Besar

Sementara itu, Dr. Pustika Amalia Wahidiyat Staf Divisi Hematologi Oncologi Anak RSCM, menjelaskan hingga tahun 2017, penderita thalassemia telah mencapai 9000 orang. Tetapi, menurutnya jika bicara prevalensi ada 5 pembawa sifat dari 15 orang di Indonesia.

“Untuk pengobatan, biayanya mencapai Rp400 juta per pasien. Kalau pasiennya mencapai 9000 orang bisa dibayangkan biaya yang harus dikeluarkan,” ungkapnya.

Dirinya menekankan, dengan melakukan screening yang dirata-ratakan biayanya mencapai Rp400 ribu, per orang, maka dengan angka Rp400 juta sudah dapat menscreening 1000 orang.

“Memang dengan melakukan screening hasilnya tidak langsung seperti mudahnya membalikkan telapak tangan. Tetapi belajar dari negara lain juga, angka kelahiran Thalassemia dapat ditekan hampir nol kasus, seperti yang terjadi di Siprus dan Iran,” imbuhnya.

Dalam kasus mengeliminasi Thalassemia, bukan pembawa sifatnya yang ditekan. Di mana, jika dilihat secara kasat mata, pembawa sifat thalassemia akan terlihat normal. Dirinya menekankan, yang terpenting setiap orang tahu, bagaimana jika mereka menikah, akan melahirkan keturunan dengan Thalassemia major.

“Menikah itu hak. Tetapi dengan informasi ini, paling tidak mereka akan mengerti apa yang akan dihadapinya ke depan terkait kasus Thalassemia, di mana bayinya akan butuh transfusi secara terus menerus. Secara psikososial, akan sangat mengganggu,” tandasnya.

Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diakibatkan oleh faktor genetika dan menyebabkan protein yang ada di dalam sel darah merah (hemoglobin) tidak berfungsi secara normal.

Zat besi yang diperoleh tubuh dari makanan digunakan oleh sumsum tulang untuk menghasilkan hemoglobin. Hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah berfungsi mengantarkan oksigen dari paru-paru ke seluruh anggota tubuh. Penderita thalasemia memiliki kadar hemoglobin yang rendah, oleh karena itu tingkat oksigen dalam tubuh penderita thalasemia juga lebih rendah.

Thalassemia terkadang dapat mengganggu aktivitas yang dijalani penderita dikarenakan kadar oksigen yang lemah dalam tubuh. Beberapa hal yang dapat dialami penderita adalah letih, mudah mengantuk, pingsan, hingga kesulitan bernapas. Selain itu, thalasemia yang tidak ditangani dengan tepat juga dapat menyebabkan komplikasi seperti gagal jantung, pertumbuhan yang terhambat, kerusakan pada organ tubuh, gangguan hati, hingga kematian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here