Medical Entrepreneurship Forum, Ketika Pemerhati Dunia Kesehatan Duduk Bareng

0
73

Medical Entrepreneurship Doctor Forum adalah acara round table discussion mengenai permasalahan seputar dunia bisnis kesehatan, yang tidak hanya dihadiri oleh para dokter praktisi namun juga dihadiri oleh orang-orang yang berkecimpung didunia kesehatan seperti pemilik rumah sakit, IT bisnis, kepala klinik, direktur rumah sakit serta orang – orang yang berminat untuk terjun ke dunia bisnis kesehatan. 

Kegiatan ini telah diselenggarakan pada 29 Juli lalu di President Executive Club Jababeka, yang diprakarsai oleh Tim President Medical Center (PMC) yaitu dr.Yala Mahendra MBA, Ir. Wendi Hakim MBA. dr. Edy dan dr Ayu.

Acara tersebut dihadiri oleh beberapa kalangan yang terlibat industri kesehatan baik dokter praktisi yang dihadiri oleh dr Lina SpS, Dr. Lady dan saudari Aurora sebagai mahasiswi kedokteran yang tertarik untuk menjalankan usaha bisnis rumah sakit.

Selain itu dihadiri pula oleh Komisaris Rumah Sakit Bhakti Kartini Ibu Imelda Apt, direktur salah satu rumah sakit di Bandung dr. Langgeng, Direktur PT Petrolexium Mr. Roy, direktur perusahaan IT dari India, disamping itu Ibu Defitrya selaku pihak perwakilan investor Stern Resource juga ikut meramaikan suasana acara tersebut.

Maraknya bisnis kesehatan terutama klinik dan rumah sakit menjadi topik yang cukup hangat sebagai bahan diskusi diera BPJS ini. Dari permasalahan di lapangan baik dari dokter maupun manajemen rumah sakit, masih mencari solusi yang terbaik dalam menyingkapi hal tersebut.

Disadari bahwa program BPJS sesungguhnya beritikad baik untuk membantu masyarakat dalam rangka mendapatkan akses kesehatan yang lebih baik. Namun masih cukup banyak kendala dan permasalahan yang terjadi di lapangan. Seperti terjadinya penundaan klaim pembayaran yang cukup menyulitkan pihak manajemen rumah sakit, masih dinilai rendahnya jasa dokter yang diberikan.

Masih banyaknya permasalahan ini memang menjadi hal yang cukup ironi terutama utk pelaku bisins rumah sakit dan klinik. Bahkan dari pihak BPJS sendiri diberitakan mengalami defisit yang cukup bersar.

dr Yala Mahendra MBA memaparkan dalam bentuk presentasi bahwa industri kesehatan secara global menunjukan angka pertumbuhan yang sangat tinggi terutama di negara-negara maju.

“Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa pertumbuhan industri kesehatan meningkat cukup tajam setiap tahunnya secara global. Tapi kenapa di Negara kita sepertinya semakin sulit untuk menjalankan usaha dibidang kesehatan? Apakah ada kaitannya dengan era BPJS ini atau memang sedikitnya peminat pengusaha yang bergerak dibidang kesehatan?”

Menurut dr. Yala, berdasarkan informasi yang didapatkan sampai saat ini ada kurang lebih sebanyak 40 rumah sakit dan klinik yang dijual karena mengalami krisis. Hal-hal tersebut pula yang menyebabkan semakin berfikirnya para pelaku usaha atau dokter yang ingin melakukan investasi diindustri kesehatan.

“Tapi tidak bisa dihindahkan bahwa masih banyak rumah sakit yang bisa bertahan bahkan mendapatkan keuntungan yang cukup baik dengan adanya BPJS. Memang banyak hal yang menentukan keberhasilan dibisnis rumah sakit ini baik dari segi pengetahuan dan pengalaman manajemen, sumber dara manusia, IT system dan lain sebagainya. Dari hasil diskusi permasalahan-permasalahan tersebut justru membuat forum mencari solusi dan menghasilkan beberapa ide, pemikiran dan pandangan dalam menjawab bisnis kesehatan apa yang terbaik yang dapat dilakukan pada saat ini.,” tambahnya.

Menurutnya lagi, salah salah satu buah hasil pemikiran hasil diskusi dan dari data yang ditemukan bahwa pada saat ini yang sedang booming di beberapa negara seperti Mexico, Thailand, Costa Rica, Singapura, India, Taiwan, China, Amerika dan Malaysia sebagai Health Tourism Industry Country.

dr. Yala menambahkan, “Lalu bagaimana dengan health tourism di Indonesia? Tidak dihindahkan lagi bahkan pasien Indonesia setiap tahunnya menghabiskan Rp18 trilliun untuk melakukan pengobatan dan medical check up di luar negeri. Dengan demikian sepertinya kita sudah cukup mengetahui jawabannya bahwa kesempatan health tourism ini belum berpihak kepada pelaku bisnis rumah sakit di Indonesia meskipun sampai saat ini sudah ada 20 rumah sakit swasta maupun pemerintah yang sudah terakreditasi JCI (International Standard).”

“Pertanyaan besar mengapa banyak pasien Indonesia lebih memilih berobat dan melakukan check-up ke luar negeri dibanding di dalam negeri? Kenapa masih sangat sedikit pasien luar negeri yang berobat di Indonesia?”

Dari hasil diskusi didapatkan beberapa hal yang menyebabkan mengapa pasien Indonesia berobat diluar negeri daripada di rumah sakit swasta di Indonesia, dari kualitas pelayanan, kenyamanan, harga yang kadang berobat diluar negeri menjadi lebih murah, teknologi yang canggih, waktu pelayanan, efiesiensi pemeriksaan dan ketepatan dalam mendiagnosa menjadi beberapa faktor dalam memilih pengobatan di luar negeri.

Berikut penjelasan lengkap dari dr. Yala:

Walaupun tidak dihindahkan juga faktor sosial dan travel menjadi alasan berobat sambil jalan-jalan, belanja, melihat situs-situs dunia. Begitu juga kenapa pasien luar negri sangat sedikit yang berobat di Indonesia, dari faktor kualitas, kenyaman, teknologi. Tidak sedikit bahkan expat-expat yang bekerja di Indonesia minta untuk dipulangkan untuk mendapatkan perawatan di negara asalnya atau negara lain seperti Singapura. Sepertinya sangat sulit untuk dapat menyaingi kualitas-kualitas rumah sakit kelas dunia untuk menarik pasien luar negri untuk melakukan pengobatan dan pemeriksaan kesehatan berkala di Indonesia. Banyak hal yang harus dipenuhi untuk dapat menyaingi rumah sakit kelas international.

Berdasarkan webometric hospital, berikut adalah beberapa rumah sakit swasta 5 terbaik di Indonesia:  1. RS. Mitra Keluarga Group, 2. SiloamHospital Group, 3. RS. Dr. Oen Surakarta, 4. Bali International Medical Centredan 5. RS. Bunda Jakarta.

Sedangkan di wilayah asia tenggara sendiri 2 rumah sakit Taiwan, RS Budist Tzu ZHi General hospital dan RS Taipei Veteran General Hospital  menduduki peringkat 1 dan 2 rumah sakit terbaik di asia.

Sedangkan Berdasarkan Hulihealth.com beberapa alasan utama maraknya medical travel yang terjadi seperti  pasien asia yang berobat ke Amerika, sebaliknya dari Amerika ke asia dan dari beberapa region lainnya, dengan alasan sebagai berikut: 1. Advance Technology, 2. Lower Cost, 3. Center of Exelence, 4. Relaxed medical Regulitation, dan 5. Insurance Alternative. 

Dari beberapa alasan tersebut kemajuan teknologi dibidang kesehatan sepertinya menjadi alasan utama bagi pasien untuk melakukan medical travel ke negara lain disamping harga yang lebih murah dan pelayanan optimal. Peraturan-peraturan yang tidak complicated dan banyaknya pilihan asuransi swasta yang dapat digunakan berskala international menjadi faktor lainnya untuk menarik pasien international untuk dapat berobat di rumah sakit tersebut.

Hal-hal tersebut mengarahkan solusi apa yang harus dipenuhi rumah sakit baik swasta maupun pemerintah di Indonesia untuk menarik pasien luar negeri agar berobat dan melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit Indonesia dalam rangka mengambil pangsa pasar medical tourism internasional. Namun hal ini juga disadari bahwa cukup sulit untuk dapat memenuhi kriteria tersebut selain membutuhkan dana yang cukup besar untuk melengkapi teknologi canggih yang terbaru, diperlukan juga sumber daya manusia yang berkualitas international baik kompentensi dokter dengan standard international, keperawatan maupun petugas kesehatan lainnya.

Hal lain yang cukup penting disamping membangun fasilitas rumah sakit yang modern, nyaman dan berkelas international dengan standard JCI, memahami budaya dan bahasa pasien dari negara lain juga menjadi salah satu kendala sumber daya manusia di bidang kesehatan. Dan untuk dapat memenuhi kriteria-kriteria tersebut sangat dibutuhkan kerja sama dari segala aspek yang terlibat baik pemerintahan, pelaku bisnis swasta, konsultan dan pihak masyarakat pada umumnya dan mungkin masih perlu waktu yang cukup panjang untuk dapat mencapai peringkat papan atas kelas dunia.

Seperti kita ketahui bahwa dalam dunia medis ada 4 aspek yaitu Curative,Preventive, Promotive dan Rehabilitatif.

Seperti yang telah dijabarkan diatas bahwa pembangunan rumah sakit sekala international  seperti rumah sakit jantung, Rumah sakit umum pendidikan, dan rumah sakit holistik merupakan program curative atau pengobatan juga adanya medical check up dan herbal medicine yang merupakan program preventive dibidang kesehatan. Namun dengan adalanya kendala-kendala dan perlunya biaya yang sangat besar, sepertinya pembangunan rumah sakit berskala international ini lebih tepat untuk dijadikan program jangka panjang atau future project di industri kesehatan dalam rangka mengangkat sektor health tourism.

Dari segala macam permasalahan tersebut mengarahkan  beberapa pemikiran ide dalam pengembangan bisnis kesehatan
health tourism yang memfokuskan pada prefentive, promotive dan rehabilitatif menjadi satu alternatif dalam menghadapi tantangan di era saat ini, dimana jenis usaha yang dapat dilakukan seperti Geriatric Clinic, Lembaga pelatihan Caregiver, Agent Pengiriman Caregiver ke luar negeri, Homecare,  Wellness Clinik, Holistic Hospital dan Biotech herbal medicine. Sepertinya bentuk usaha tersebut yang dapat dijadikan satu paket olahan untuk menghidupkan health tourism di Indonesia, yang tentunyamengedepankan teknologi, service excellence, kualitas SDM yang tinggi, kenyamanan, keamanan dan fasilitas yang dapat bersaing dengan skala international.

Salah satu pokok bisnis yang dibahas adalah bagaimana produk bisnis yang ditawarkan, target market dan prospek bisnis klinik geriatric ke depannya. Konsep ini cukup jelas disampaikan oleh dr. Langgeng yang memiliki pengalaman di managemen rumah sakit dan klinik dan Bandung, bahwa pangsa pasar yang cukup menarik untuk dapat di fokuskan kepada orang tua terutama market luar negeri. Namun juga diakui masih banyak kendala dalam pemenuhan SDM yang berkualitas terutama mengenai bahasa, etika dan budaya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut beliau membuka pelatihan kerja bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan kualitas SDM nya yang kelak akan mengisi posisi di klinik-klinik geriatric tersebut.

Diskusi tidak habis sampai disitu walaupun waktu sudah menunjukan jam makan siang, namun Mr Roy berbagi pandangan mengenai dunia bisnis kesehatan yang ada di India dan juga menjelaskan system IT yang dapat diaplikasikan di dunia bisnis kesehatan Indonesia agar dapat lebih efisien. “Tentunya IT merupakan salah satu faktor utama juga dalam dunia bisnis kesehatan terutamadalam mengikuti jaman di era digital jaman now ini. Begitu juga yang terjadi di India saat ini, begitu pesatnya industri kesehatan terutama di IT dan health toursm.”

“Pengunjung yang datang ke India untuk berobat dan melakukan medical check up meningkat cukup cepat terutama dari negara-negara tetangganya seperti Pakistan dan Srilangka. Salah satu IT sistem yang sedang menonjol adalah aplikasi data analisis sistem rumah sakit yang dapat mempermudah pihak manajemen dalam menelaah data rumah sakit baik dari segi finance, BOR (bed occupationRate) maupun data yang berkaitan degnan kompetensi rumah sakit,” tambahnya.

dr. Yala pun menutup dengan kesimpulan, “Dari hasil diskusi tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa adanya permasalahan di industri kesehatan tidak menjadi hambatan atau halangan dalam melakukan bisnis di bidang kesehatan. Justru menimbulkan opportunity lain yang dapat kita manfaatkan seperti health toursm. Baik sistem manajemen rumah sakit dan health toursm masih sangat perlu dimatangkan dalam pemenuhan kualitas dan kompetensi pelayanan untuk dapat bersaing di dunia internasional. Tentunya dengan meningkatkan kualitas SDM, teknologi terbaru, fasilitas gedung skala internasional, dan menggunakan IT system yang dapat disesuaikan dengan fungsi bisnisnya. Kerja sama antara semua instansi baik pemerintahan dan swasta sangat diperlukan demi meningkatnya kemajuan usaha di bisnis kesehatan khususnya health tourism.”

“Terimakasih kami ucapkan kepada semua pihak yang turut mensukeskan acara Medical Entrepreneurship Forum ini, terutama bagi para anggota forum yang sudah bersedia hadir memenuhi undangan kami dan juga para seluruh TIM PT. SPPK, President Executive Club dan Bekasi Industry Tourism yang sudah sangat membantu dan mensupport kegiatan kami ini. Semoga hasil diskusi ini dapat memberikan sedikit membuka wawasan dan pandangan sehingga dapat bermanfaat bagi kegiatan usaha dibidang kesehatan ke depannya,” tutupnya. (TPP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here