Himpsi Jaya Diskusikan Psikologi, Bagaimana Respon ke Depan

0
271
Ketua Satu Himpsi Jaya, Widura, dalam Diskusi Outlook 2019, di Kantor Himpsi Jaya, di bilangan Jakarta Selatan.

Jakarta, presidentpost.id – Menutup tahun 2018, (Himpunan Psikologi Seluruh Indonesia) Himpsi Jaya, menyelenggarakan diskusi terkait dengan keadaan psikologi yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Diskusi tersebut menjadi bahan Himpsi, untuk melkukan responsif ke depan, apa yang akan terjadi dan mesti dilakukan.

Ketua satu Himpsi Jaya, Widura, menjelaskan dalam kacamata psikologi kemajemukan yang ada di lingkungan masyarakat, tentunya berkitan dengan cara pandang, kebutuhan yang beraneka ragam. Untuk itu, hal ini tentu harus dilihat bagaimana kecenderungan-kecenderungan yang terjadi di lingkungan masayarakat.  

“Ini menjelang akhir tahun kami membuat kegiatan untuk merespon tahun depan dan selanjutnya. Di psikologia banyak orang, di mana pemikiran, aliran dan kebutuhan di dunia beraneka ragam sehingga di akhir tahun kita coba menangkap suatu kegiatan. Kami coba menangkap informasi itu bagaimana merespont ke depannya,” terang Widura, di ruang kerjanya, Rabu (19/12/18).

“Di psikologi tidak hanya berkaitan dengan ke HRD-an atau human resouces, tetapi terkait juga dengan masalah klinis, psikologis politik, masyarakat, sosial agama dan sebagainya. Ke depan akan ramai terkait dengan masalah politik dan antisipasi seperti apa ?,” tambahnya.

Lebih jauh, daia mengungkapkan psikologi suatu ilmu yangmungkin semua orang bisa melakukan tanpa sekolah. Namun, bagi mereka yangmelakukan pendidikan secara formil jangan sampai dimanfaatkan untuk kerugianmasyarakat. Himsi jaya salah satu tugasnya mengontrol untuk tidak berlebihan,sehingga jangan samapai ada yang menilai seolah-olah dapat meramal ini dan itu.

“ Saya tegaskan, kami ingin melihat dengan acara ini akan kejadian-kejadian ke depan dari berbagai proyeksi di masyarakat terkait dengan perkembangan yang terjadi,” tegasnya.

Dia menggarisbawahi, perlunya mewaspadai informasi-informasi yang belum tentu kebenarananya. Dirinya menegaskan dalam dunia politik yang dianalisis sebetulnya persepsi. Persepsi ada dalam bagian psikologi. Menjadi rawan ketika persepsi ini memecah pandangan, dan ini sulit diantisipasi.

“Kita belum tahu bagaimana pemecahan terkait akan hal ini. Tetapi, kami mencoba mengingatkan kawan-kawan, apapun kata anda bisa membuat permasalahan,” katanya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Ketua Dua Himpsi Jaya, Rizlan Chandra, mengungkapkan dari sisi pendidikan yang menjadi solusi, seharusnya pemerintah mendesain ulang sistem pendidikan yang lebih berbasis kepada pendidikan karakter. Walaupun saat ini, pendidikan sudah berbasis kompetensi. Tetapi yang perlu dicatat saat ini kompetensinya lebih mengarah kepada teknis lagi, bukan karakter building.

“Saya sering mengulang-ngulang dulu kita diajarkan Budi Pekerti. Namun saat ini sudah tidak ada. Bagaimana kita terus mengembangkan karakter. Padahal setahu saya di Amerika, seorang manusia mendapat pendidikan diawali dengan pendidikan karakter. Memang di Indonesia ada, tetapi yang saya lihat hanya ada di pendidikan swasta, multinasional plus namanya. Tetapi sekolah tersebut hanya bisa menjaring 5% dari populasi yang ada karena biaya yang cukup tinggi. Pendidikan kejujuran itu jauh lebih penting dari pendidikan yang lain, seperti matematika,” ungkapnya.

Menjawab terkait psikologi masyarakat awam di tahun politik, Rizlan, memaparkan masyarakat awam dalam menghadapi kekisruhan dan kebingungan yang ada, yakni modal awal sebagai masyarakat harus digunakan yaitu rasio. Rasio harus digunakan dalam, arti harus obyektif. Kedua, dirinya mengaskan yang sulit. Bagaiamana mengendalikan emosi. Ketika rasionya turun emosinya naik, jadilah menjadi orang yang agresif dan destruktif.  Ini bisa mengarah kepada yang lebih parah jika tidak dilakukan maintance dari awal. Kembali ke rasio, logika untuk melihat secara logic, lalu bagaimana mengendalikan emosi.

“Kami lihat memang susah karena kami melakukan tes ke beberapa orang yang memang mereka sudah menetapkan suatu pendapatnya, merubahnya sungguh sulit karena mereka menutup rasionya. Lalu ketika tidak suka dengan orang lain meski pun ternyata yang dia tidak suka bukan suatu yang jelek tidak ingin dia merubahnya. Nah mungkin dua hal ini yang barangkali menjadi kuncinya, bagaimana mempelajari dan melihat untuk melakukan langkah lebih jauh,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here