Bagaimana HOAX Bekerja (Sebuah Tinjauan Psikologis)

0
427

Oleh : Haris Herdiansyah, M.Si
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Presiden

Pesta demokrasi lima tahunan adalah masa panen bagi para pelaku Hoax. Ibarat gorengan pinggir jalan, Hoax dikonsumsi masif nyaris oleh semua kalangan, mulai dari kalangan intelek hingga komunitas ibu-ibu rumah tangga.

Dalam konteks politik sudah jelas bahwa Hoax berisi isu-isu, rumor atau pemikiran yang belum tentu dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Ditampilkan pada media-media tertentu dengan tujuan untuk memprovokasi sikap dan pemikiran publik yang pada akhirnya bertujuan menjatuhkan lawan politik atau kubu politik yang berseberangan.

Bak pribahasa “lempar batu sembunyi tangan”, setelah isu dihembuskan dan dilemparkan ke publik, si pelempar menunggu dibelakang layar terhadap reaksi publik yang responsif.

Sebagian masyarakat terdidik, sudah paham betul bagaimana harus merespon Hoax, tetapi sayangnya sebagian besar masyarakat kita terutama kalangan masyarakat dengan tingkat status sosial dan pendidikan relatif rendah, serta akses terhadap media dan informasi yang kurang memadai, masih sangat responsif terpancing Hoax. Mengapa Hoax masih diminati bahkan dikonsumsi oleh sebagian masyarakat kita?

Menurut hemat saya, masyarakat kita adalah masyarakat yang mudah reaktif secara emosional, oleh karenanya reaksi emosional ini cocok disulut dengan stimulus yang berbau emosional juga. Pelaku Hoax melihat kondisi ini sebagai pasar yang potensial. Selain itu, kemasan Hoax sangat renyah dan ringan untuk dikonsumsi, artinya gaya bahasa dan isinya sangat jelas, tajam secara emosional, dan mudah dicerna. Tidak butuh analisis yang rumit, atapun logika berpikir yang dalam, cukup sediakan “otak kosong” dengan emosi penuh, Hoax sudah dapat dinikmati.

Bagaimanapun juga, Hoax adalah bagian dari strategi pemenangan dan masih dianggap berpengaruh cukup signifikan dalam perpolitikan di negeri ini, karenanya isu yang dibungkus dalam Hoax bukanlah isu yang dibuat secara asal-asalan, asal berbohong tingkat rendahan, asal menjelekkan dan memfitnah. Karena ketika isu provokatif gagal mempengaruhi publik terhadap kubu sasaran, maka dampaknya dapat mengarah ke kubu sendiri bak bumerang.

Materi/issu Hoax tidak hanya dibuat untuk menyerang kubu lawan. Ada juga materi Hoax yang dibuat untuk kubu sendiri, tetapi tujuannya tetap untuk menyerang kubu lawan. Jenis mana yang dipakai, tergantung dari pemetaannya. Faktor yang umumnya dipetakan adalah status sosial, tingkat pengetahuan, dan akses terhadap media dan informasi. Mari kita kupas satu persatu.

Pertama, Hoax yang ditujukan kepada kubu sendiri. Jika sasarannya adalah masyarakat yang berpendidikan dan berpengetahuan relatif baik, serta memiliki akses yang baik terhadap media dan informasi, maka jenis Hoax yang lebih efektif adalah Hoax yang ditujukan kepada diri sendiri.

Mengapa demikian? Golongan masyarakat ini memiliki tingkat ketergantungan dan kepercayaan yang relatif tinggi terhadap media, sehingga informasi apapun yang ditayangkan melalui media menjadi mudah untuk diserap dan direspon cepat.

Dua jurus penting yang perlu kemas yaitu nomor satu adalah isu yang sifatnya negatif terhadap diri sendiri seperti fitnah, tekanan, diskriminasi, dan lain-lain. Nomor dua adalah isu negatif tersebut harus dipersepsi oleh kelompok masyarakat target sebagai sebuah kebohongan yang datangnya dari kubu lawan sehingga target akan berpikir “gak benar ini…..ini pasti fitnah”.

Sikap tersebut akan menggiring masyarakat target untuk berempati dan mempersepsikan sang tokoh sebagai seorang yang ter-dzolimi atau teraniaya. Secara psikologis, sikap tersebut akan memunculkan perilaku empati-altruistik dimana target akan terstimulasi untuk menolong tokoh yang teraniaya.

Dalam konteks pemilu bentuk perilaku menolong adalah dengan memberi dukungan suara atau dengan memilihnya pada saat pemilihan nanti. Di waktu yang bersamaan, dinamika psikologi yang berkebalikan terjadi. Masyarakat target akan memunculkan perilaku membenci dan bersikap negatif terhadap kubu lawan sebagai dalang atau penyebar Hoax yang merupakan korban yang sesungguhnya.

Kedua, Hoax yang ditujukan kepada pihak lawan. Jika targetnya adalah masyarakat dengan tingkat pengetahuan yang relatif tidak tinggi dengan akses terhadap media yang terbatas, usia yang tidak lagi muda, dan keterikatan dengan norma sosial maupun norma agama kuat, jenis Hoax kedua ini lebih efektif.

Kelompok masyarakat target jenis Hoax kedua ini masih sangat mengagungkan hal-hal yang bersifat normatif dengan ketaatan yang cukup terhadap nilai-nilai agama. Hal-hal yang bersifat bertentangan dengan norma sosial dan norma agama, secara otomatis akan dipersepsi sebagai sesuatu yang salah dan patut dibenci.

Dua jurus penting yang perlu dikemas adalah nomor satu yaitu berita yang sifatnya negatif terhadap kubu lawan dan harus bertentangan dengan norma sosial atau norma agama. Nomor dua yaitu berita tersebut harus benar-benar meyakinkan dan jangan sampai target mengetahui bahwa ini adalah sebuah kebohongan.

Bagi masyarakat target ini, kecanggihan media editing masih cukup efektif memengaruhi dengan memanfaatkan foto yang diedit dan dibuat sedemikian rupa untuk membantu memvisualisasikan situasi tertentu yang sifatnya tidak pro-sosial. Dengan demikian masyarakat target akan berpikir bahwa kubu yang dituju adalah kubu yang perilakunya benar-benar melenceng dari nilai dan norma sosial maupun agama dan akan dicap sebagai individu yang tidak patut untuk dijadikan pemimpin. Pada akhirnya kebencian tersebut akan melahirkan penolakan atau tidak memilihnya pada saat pemilu nanti.

Selain dari dua jenis Hoax diatas, situasi dan kondisi yang juga turut mewarnai  pemilu tahun ini adalah hanya terdapat dua pasang kandidat yang saling bertarung memperebutkan kursi kepresidenan. Kondisi ini akan melahirkan pola pikir yang dikotomi yang dampaknya adalah jika seseorang telah terlanjur fanatik atau menyukai satu kubu, maka secara tidak sadar ia cenderung tidak menyukai kubu lainnya, walaupun pada kenyataannya, pastilah setiap kubu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dampak pemikiran dikotomi ini, tak jarang banyak orang yang terpancing secara emosi yang pada akhirnya berujung kepada pertikaian atau pertengkaran yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Apapun yang terjadi, sudah selayaknya bangsa ini menjadi dewasa dalam mensikapi Hoax. Bagaimanapun juga, Hoax masih merupakan bagian dari strategi pemenangan dan masih mampu memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Berpikir dengan kepala jernih bukan saja dapat memahami Hoax secara lebih bijak tetapi juga mampu menghindari perpecahan akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here